Selamat datang kembali di dunia pagi! Semesta pikiran dimana siang, petang, malam dan larut sekalipun, dipetualangi semegah pagi!
Kali ini Pagi ingin bercerita tentang sebuah hobi, yang lumayan umum tetapi masih mempunyai kesan eksklusif tersendiri, yaitu berpuisi. :)
Pagi sendiri telah lama berpuisi, merangkai frasa, mencoba susuni kalimat yang berisi. Pengalaman mengajarkan, berpuisi dapat menjadi pelampiasan ketika tekanan memuncak, pelepasan ketika perasaan membuncah. Berpuisi juga dapat mengasah kepekaan, dan ini kesimpulan Pagi setelah mengamati keseharian beberapa orang yang memang gemar berpuisi : aktifitas berpuisi adalah seperti membuka gerbang yang menghubungkan antara ruang takhingga pemikiran dengan kepadatan alam semesta, merefleksikan ide maupun idealisme, dari dan dalam realita dunia nyata.
Sastraku.
Nyaris bersinonim dengan nomina 'pembuat puisi', kata 'sastrawan' lebih umum dipakai oleh para pembuat puisi untuk merujuk dirinya maupun rekan sesama pembuat puisi. Para sastrawan mempunyai kebanggaan yang khas, kebanggaan yang jadi hak asasinya, yaitu kebanggaan terhadap karyanya sendiri. Tidak ada batasan kelayakan sastra, karena rasa transendenlah yang menjadi penilai utama dan oleh karenanya seorang sastrawan yang baik akan bangga terhadap semua karyanya dan memandang karya-karyanya tersebut seperti anak-anaknya. Namun, kebanggaan yang demikian bukanlah sebentuk kecambah dari kesombongan melainkan sejumput akar kokoh identitas diri. Telah jadi hukum bahwa sastra (dalam hal ini, puisi) yang berhasil adalah sastra yang terlahir dari kesungguhan, dan bersih dari penyakit pengekoran. Ya, sastrawan sejati akan mengakui bahwa sastra adalah dunia yang haus akan hal baru. Meski demikian, sebuah sastra tidak semestinya mengabaikan kepemirsaan, yaitu pasar yang menghidupinya. Berkaitan dengan ini, sastrawan dapat dengan mudah terjerumus dalam arus, bersastra sebagaimana diminta saja. Pasaran sastra hendaknya disikapi seperti sebuah tubuh yang senantiasa sakit, yang hanya dapat sembuh dengan suntikan sastra murni. Alih-alih mencekoki dengan sajian sastra yang begitu-begitu saja, sastrawan yang baik akan memanfaatkan buah-buahan dari pohon pemikiran di lubuk maknanya untuk menyediakan penyembuh yang selalu baru, karena 'penyakit' (baca : rasa lapar makna) tadi akan segera kebal terhadap pengobatan usang (yang terjadi sebagai akibat dari kecepatan zaman). Dengan demikian, karya yang merupakan perwujudan kebanggaan sastrawi seorang sastrawan haruslah menjadi sastraku baginya. Terdengar egois dan omong besar, mungkin. Tetapi bukankah sastra seharusnya menjadi aktualitas kepribadian, peta indah yang diukir dengan meresapi emas-emas pemaknaan dari aliran agung sang Takdir, aliran kebijaksanaan Ilahi?
Bahasa penuh warna.
Selain sebagai sebuah upaya aktualisasi diri, berpuisi berperan mengasah indera. Oleh karenanya, puisi haruslah berestetika karena ia berurusan dengan kemurnian pemaknaan. Nah, standar estetika inilah yang menjadi ruang bebas para sastrawan untuk menentukan. Sepayah apapun, tidak ada sebuah puisi pun yang pantas kita hina, karena menghinanya sama saja dengan menghina si pembuat. Puisi dikehendaki sebagai sarana komunikasi ideal yang elitis, dimana makna-makna ditancapkan dengan lebih dalam dan mengena. Ketika berpuisi pun seorang sastrawan lazimnya menghindari monotonitas kata (hal ini akan menelanjangi kemiskinan diksinya), kecuali jika ia memang meniatkan penekanan (melalui repetisi) maupun penyindiran. Sebuah karya sastra yang ideal akan membuat perbedaan sebelum dan setelah dibaca : ia menunjuki keindahan tersembunyi yang tersamar dalam belantara makna, dan ia memperdengarkan kebijaksanaan sunyi yang seringkali tertelan keseharian fana. Sastra, puisi yang berharga adalah sebuah pembahasaan harmonis dari sekantung makna, dengan barisan-barisan frasa yang penuh warna.
Bukan Benang Kusut
Pandangan yang cukup umum dalam masyarakat awam adalah bahwa bahasa sastra (lebih tepatnya, sastrawi) adalah bahasa yang rumit, yang belum masuk pencernaan makna dengan membacanya sekali saja. Ini tidak sepenuhnya benar, dan tidak seutuhnya salah. Puisi memang mengedepankan estetika, dan oleh karenanya seringkali mengorbankan kesederhanaan. Meski demikian, hendaknya bait-bait rumit dalam sebuah puisi tidak dipandang sebagai benang kusut, tetapi sebagai rute panjang diperjalankannya setumpuk makna dari ruang tinggi perenungan ke ruang nyata pengecapan dan penginderaan. Baris demi baris dalam sebuah puisi adalah rajutan tekun sang sastrawan, pakaian gagasan penuh warna yang kedalamnya makna dilahirkan, agar kemudian dapat bergerak dan berjalan menyentuhi pemikiran banyak orang. Sebenarnya, tidak betul-betul diperlukan sebuah teori dalam berpuisi, karena ia seni bebas yang memang mulanya diniatkan sebagai konsumsi pribadi. Dan sebagaimana sebuah lukisan yang rumit tidak akan dicaci justru malah disiram puji, puisi yang canggih, mungkin sedikit berbelit, dan pada akhirnya menyuguhkan klimaks yang mengena, selain menjadi pelatih kepekaan bagi si pembuat, adalah amat berharga bagi pembacanya karena ia dapat mengajari kebijaksanaan.
Oleh karena itu, Pagi mengajak kalian para sahabat pagi untuk mencoba memulai berpuisi (bagi yang belum) dan bagi para sastrawan yang mendengarkan pagi, Pagi sampaikan salam hangat dan ajakan mari berbagi makna. :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Halo, salam kenal pagi... :)
BalasHapusaku Vidya...
Sepertinya kamu mengerti cukup banyak sm yang namanya sastra ya..
aku suka puisi dan berpuisi.. tapi kegemaranku ini hanya sebagai saranaku u menumpahkan semua emosiku,,
tapi klo teorinya atau ttg sastra gitu,, aku msih buta.. :D
makna puisi selain sbg tumpahan emosiku,, aku gak tau... menurut pagi? :)
salam kenal Vidya.. :)
BalasHapusPagi sendiri cuma mengotodidaki perpuisian.. sebagaimana Pagi bilang, puisi adalah seni bebas dimana yang paling berhak menilainya adalah diri sendiri..
^^
kalau menurut Pagi, puisi itu selain sbg tumpahan emosi bisa juga sbg sarana utk meyakinkan org lain ttg pendapat kita.. Dgn pilihan kata yg tepat dan sarat makna, kita dapat menyentuh banyak kehidupan, mengubah kepribadian, dan secara gak langsung berbuat baik.. :)
hmm,, benar juga ya...
BalasHapusSelama ini aku berpuisi lebih untuk diriku sendiri, lebih ke untuk menunjukkan secara tersirat tentang apa yang kurasa..
ternyata kita juga bisa berpuisi untuk berbuat baik ya...
wah,, terimakasih pagi, sudah lebih membuka pandanganku tentang puisi itu sendiri... :)
sama-sama Vidya..
BalasHapus^^
iyap. Bener bgt, dengan mempublikasikan puisi kita kepada khalayak yang tepat, kita bisa menjadi berguna, punya banyak teman, dan perasaan pun lega karena kegelisahan tersalurkan, bahkan mewujud jadi karya yang berharga :)
hmm,, kayaknya aku pengen mulai mencoba menulis sesuatu untuk berbuat baik deh..
BalasHapustapi masih suka bingung,, krn selama ini aku cuma menuliskan apa yang aku rasakan,, gak mikirin itu bakal bermanfaat gak ke orang lain..
tapi giliran mikir gini,, malah jadi tersendat nulisnya...
menurut pagi baiknya gmn ya..?
menurut Pagi sih sebaiknya dibiarkan mengalir saja.. yang Pagi bilang kan dengan berpuisi kita bisa berbuat baik secara gak langsung.
BalasHapus^^
Gini Vidya, memang, kalau 'memaksa' ingin menulis untuk berbuat baik seperti itu ya kemungkinan kita akan tersendat karena gambaran kita akan jadi terlalu ideal.. (karya yang sempurna, tanpa cacat, penuh kebijaksanaan, dsb) Untuk memecahkan writer's block seperti itu ada banyak cara kok, mulai dari menulis acak tanpa berhenti selama beberapa menit, menuangkan ide ke media selain tulisan, mengalihkan fokus untuk sementara dengan berolahraga, dll. Nah, setelah mulai mengalir lagi, kita pilihi gagasan-gagasan yang berletupan di kepala, ambil yang kira-kira dapat dijadikan pelajaran bagi yang (akan) membaca, lalu simpan dan godok ide-ide yang lebih egois atau yang berfokus di kedirian kita sampai kira-kira jadi cukup dalam.. Intinya, biarkan puisi kita mengalir membentuk lautan ekspresi diri, tetapi jangan biarkan ia jadi dangkal. :)
bisa dimengerti? Hehe. Pagi sendiri merasa masih kurang berbuat baik sih melalui puisi, karena yg pertama : lingkup penyebaran gagasan Pagi masih sempit banget, baru sebatas kawan-kawan selingkungan. Kedua : puisi-puisi Pagi rasanya masih cukup dangkal, sehingga perlu banyak berlatih lagi.. Nah, tapi Pagi akan terus (menyebarkan) semangat berbuat baik dengan berpuisi.. :D
hwaa,, aku suka deh sama pemikiran pagi..
BalasHapusMembuka pandanganku..
Aku mulai mencoba menulis puisi dari smp,, tapi gak aku tekuni.. semakin besar aku semakin sering bikin puisi klo ada emosi yang gak bisa aku luapkan lewat kata2 biasa, akhirnya aku memilih puisi..
lama2 aku makin suka puisi.. :)
tapi sebatas itu aja..
sekarang aku lebih tau makna lain dari sebuah berpuisi..
Yup,, semoga pagi bisa terus menyebarkan semangat berbuat baik dgn puisi,, gak hanya padaku,, tapi juga yang lainnya..
Dan semoga aku juga bisa melakukan itu secepatnya..
terimakaasiiiihh! :)
woww sama-sama Vidya.. Pagi senang lah kalau bisa menjadi berguna..^^
BalasHapusoh iya, ngomong-ngomong..sedari tadi Pagi membahas tentang puisi tapi tidak ada satu pun puisiku di blog ini. Mungkin dalam waktu dekat, Pagi akan memasukkan puisi-puisi lama.. Semoga sesuai dengan ekspektasi. Haha :D
hehehe.. iya juga ya..
BalasHapusOk Pagi,, aku tunggu puisi2nyaa! :)
aku juga kalau menulis atau menmpahkan emosi kebanyakan pakai puisi,, jd blogku jg sebagian besar puisi..
tapi susunan dan kata2nya masih agak acakadut.. :D
Soalnya apa yg kurasa, aku tulis aja.. hehe
wuoo iyaiya, kalau sempat insya Allah kelak Pagi jadikan blog ini gudang puisiku..selama ini Pagi baru aktif berpuisi di suatu jejaring sosial (F*cebook) sih..
BalasHapusWah, Pagi juga gitu, kalau perasaan lagi tidak stabil ya berpuisi. Menurutku malah berpuisi itu bisa punya efek menenangkan yang sama seperti menangis (yaitu meredakan emosi)..