Kehidupan manusia selalu penuh liku; ada kalanya berbahagia, ada kalanya semua terasa sakit dan sedih bagai hati kena raksa.
Sebenarnya semua tergantung pada cara pandang.
1. Kita dapat memandang kehidupan ini sebagai sebuah penerjemahan dari kata 'ketidakpastian'; dengan konsekuensi bahwa ketika kita berbahagia kita akan dipaksa bersedih, karena kita tidak tahu kapan kebahagiaan tersebut berakhir, dan ketika sedang bersedih sekali pun kita akan dipaksa meratapi, karena kita juga tidak tahu kapan kesedihan tersebut berakhir. Dalam cara pandang ini mungkin terdapat sejumlah keparalelan dengan materialisme, yang sejatinya menuhankan 'kesempatan acak' sebagai yang berperan memunculkan alam semesta dari ketiadaan, dan oleh karenanya menginstruksi manusia untuk menjadi makhluk (oportunis) yang hanya hidup saat ini : dengan mengasumsikan bahwa kehidupan adalah ketidakpastian yang hanya berisikan kejadian acak tanpa makna, orientasi seorang manusia akan secara alami beralih pada pemenuhan keinginan (dan bukannya kebutuhan), yaitu untuk bersegera menuruti seruan hawa nafsunya, tentu dengan segala cara tanpa memedulikan halal-haram. Semua itu karena baginya, kesempatan hanya ada hari ini dan kehidupan hanya ada saat ini : bersenang-senanglah karena hari esok belum tentu ada. Perhatikan, betapa sebuah dugaan sederhana bahwa kehidupan ini adalah ketidakpastian dapat menuntun seseorang untuk menjadi budak hawa nafsunya, yang pada akhirnya, setelah keinginan-keinginannya terpenuhi sekalipun tetap ia akan terhisap ke dalam kesuraman penjara eksistensi, tak punya daya menghadapi eksekusi sang waktu bersama singa buas ketiadaan. Anda merasa mempunyai cara pandang ini? Tenang, adalah wajar untuk mengasosiasikan ketidakpastian pada konsep yang seabstrak kata 'kehidupan', tetapi jika Anda masih ingin menjadi bagian dari golongan orang-orang yang berakal maka Anda dapat selamat dari cara pandang ini dengan mengarahkan asosiasi alami Anda tadi ke sebuah cara pandang yang akan segera saya jelaskan.
2. Kehidupan bukanlah ketidakpastian, melainkan sebuah kepastian yang tidak kita (manusia) ketahui. Penting untuk mengontraskan ini dengan cara pandang sebelumnya, yang beranggapan bahwa kehidupan adalah benar-benar ketidakpastian mutlak tanpa adanya sedikitpun makna pada letusan gunung, awan yang berarak, hujan yang menumbuhkan tanaman, siang dan malam yang berganti giliran, semua keberhasilan serta kegagalanmu dan segala hal. Dalam cara pandang yang kedua ini ditekankan bahwa terdapat kepastian dalam kehidupan ini, yaitu bahwa tiap hembusan angin mempunyai/membawa maksud, bahwa tiap tetesan hujan dititipi tugas penting, bahwa curahan kehangatan matahari bukanlah tanpa arti, dan bahwa segala yang bergerak bukanlah dibahanbakari oleh kebetulan. Secara naluriah, kita akan menyetujui cara pandang ini karena kita pun tidak melakukan sesuatu karena kebetulan, misalnya, apakah kita pergi ke kampus karena 'kesempatan acak' atau karena kita memang harus menghadiri kelas? Atau apakah kita menggerakkan tangan untuk mengambil makanan lalu memasukkannya dengan penuh kesadaran ke mulut kita untuk kemudian dicerna adalah karena 'kesempatan acak' atau karena kita memang lapar dan ingin mengisi tenaga? Secara logika pun, dengan 'kesempatan acak', tidak akan ada keberlanjutan. Misalkan kepala Anda terjadi dari sebuah kesempatan acak. Maka bagaimana leher Anda bisa terjadi secara 'acak' pada tempatnya yang dengan tepat menghubungkan kepala dengan badan, meski juga ada kesempatan bahwa ia muncul secara acak di takhingga lokasi lain di alam semesta. Ya, jika alam semesta memang terlahir dari sebuah proses kebetulan, dan bahwa tiap benda terjadi secara acak, mengapa kita tidak pernah menyaksikan sebuah leher yang tiba-tiba muncul di tengah jalan, atau mengapa atom-atom membentuk susunan yang menjadi sebuah jari secara utuh padahal ada takhingga cara mereka dapat membentuk susunan? Dalam ekstrim yang paling sederhana, dunia yang dituhani kesempatan acak seperti itu tidak akan memungkinkan adanya garis lurus, melainkan hanya titik-titik yang tersebar tanpa arti.
Saya rasa cukup banyak penjelasan mengenai adanya kepastian dalam pengaturan alam semesta, dan khususnya, dalam berjalannya kehidupan. Memang, kadang terjadi hal-hal yang sering kita deskripsikan sebagai 'kebetulan', seperti ketika kita kebetulan bertemu teman lama, kebetulan terpeleset kulit pisang, dll. Berhati-hatilah kawan, yang sedang terjadi sebenarnya bukanlah hasil 'kesempatan acak' maupun kebetulan, melainkan semua telah terencana secara pasti (dalam takdir) : kita-nya saja yang tidak mempunyai pengetahuan cukup atas kepastian ini, seperti halnya ketika orang lain berbicara dengan kita, kata-kata yang dia ucapkan bukanlah tersusun secara ajaib melalui kebetulan melainkan hasil pengolahan pikirannya, yang tentu kita tidak mempunyai pengetahuan atasnya.
Begitulah. Kehidupan selalu penuh liku tetapi lika-liku tersebut tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan ia adalah ujian dari Sang Pencipta. Bahagia atau bersedih, kita tidak berhak mengeluh karena kita bahkan tidak menciptakan diri kita sendiri. Bahagia atau bersedih, kita harus senantiasa bersyukur karena masih bisa mendapatkan pagi, dan kita juga harus tetap 'awas' dalam menjalani hidup ini karena belum tentu kita akan dapat menjumpai lagi.
Maha Agung Engkau ya Allah, yang telah menjadikan pagi sebagai pengingat, penyegar dan penegar iman bagi kami.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar