Sebagai realisasi perekaman aktivitas berpuisi Pagi, bagian ini akan menjadi semacam database bagi koleksi penulisan Pagi. Sajak-sajak lama (dan baru) akan dikumpulkan disini, dengan pengkategorian per triwulan. Secara umum, perkembangan corak puisi Pagi selama periode ini mencerminkan perubhan-perubahan para diri Pagi, dan pada cara Pagi memandang dunia. Secara lingiustik, periode ini juga merefleksikan perubahan pada kelingiuistikan dan diksi Pagi. Jadi, selamat menikmati. :)
Triwulan 1
09101. "Tahun Tuhan"
Hari-hari yang berlalu tanpa henti,
dan tahun-tahun yang selalu saja berganti.
Manusia senantiasa tertawa tiap kali pergantian tahun menyapa,
dan tahun-tahun yang selalu saja berganti.
Manusia senantiasa tertawa tiap kali pergantian tahun menyapa,
seakan melupakan kenyataan bahwa dunia telah jadi
setahun lebih dekat dengan kematiannya.
Sebuah tahun yang panjang,
Sebuah tahun yang panjang,
yang manusia membuat begitu banyak kesalahan didalamnya.
Sebuah tahun yang panjang,
Sebuah tahun yang panjang,
yang manusia mengalami begitu banyak kekalahan didalamnya.
Sebuah tahun yang panjang,
Sebuah tahun yang panjang,
yang manusia telah hidup begitu lama didalamnya.
Pergantian yang hanya sedetik saja,
Pergantian yang hanya sedetik saja,
dan bagaimana kita mesti menyikapinya ?
Sebuah tahun yang telah berlalu adalah penyesalan yang takkan bisa diputar ulang:
Sebuah tahun yang telah berlalu adalah penyesalan yang takkan bisa diputar ulang:
pemberian Tuhan yang takkan bisa dipakai lagi.
Maka akan sangat pantas jika kita mulai berhenti meniupi terompet-terompet
atau meneriaki langit yang dinyalakan dengan kembang api tiap kali pergantian tahun tiba.
Sebuah perenungan sudah cukup.
Sebuah perenungan sudah cukup.
Sebuah perenungan yang seharusnya setiap hari,
tentang betapa banyak yang Tuhan berikan
dan betapa mungil yang telah kita lakukan.
Merenunglah tentang tumpukan kesalahan yang telah lama dilupakan
Merenunglah tentang tumpukan kesalahan yang telah lama dilupakan
dan amal kecil yang terlalu sering teringat.
Tahun ini harus menjadi tahun yang Tuhan tak lagi dilupakan didalamnya
Tahun ini harus menjadi tahun yang Tuhan tak lagi dilupakan didalamnya
(06 Januari 2009)
**
09102. "The Night of an Angel, and the Light on an Apple"
~Prolog~
Malam ini terasa begitu dingin, sunyi, dan seakan memeluk tanpa kehangatan.
Langit hampir pekat ketika sang awan menyingkap sebutir lagi bintang.
Angin masih berhembus, mendekap apapun dalam kebekuan yang sedetik saja.
Jiwa-jiwa dunia telah perlahan terlelap ketika malam mulai lengkap.
Bulan yang separuh,
kegelapan yang keruh,
kesunyian tanpa keluh,
dan nyanyian yang kian bergemuruh.
Ya, aku menyebutnya nyanyian.
Bulan yang separuh,
kegelapan yang keruh,
kesunyian tanpa keluh,
dan nyanyian yang kian bergemuruh.
Ya, aku menyebutnya nyanyian.
Nyanyian mereka, malaikat yang suci diatas sana,
atau yah,, gumamanku sendiri.
atau yah,, gumamanku sendiri.
Tiap denting yang menggema tanpa kata itu bercerita tepat ketika aku mulai mencoba terpejam.
Dan damailah aku.
~a verse on creation~
Hm.
Malam yang nyaman, udara yang hangat, dan sebuah nyawa, yang tak punya harga.
Dunia dan larutan emosi sempat sejenak menarikku dari inkorporealitas
tempatku biasa mengepakkan sayap.
Untunglah langit tak benar-benar menyesatkanku :
Untunglah langit tak benar-benar menyesatkanku :
Helaian termungil rerumputan itu meliuk dihembus angin
yang melembut seiring malam melarut.
Embun tampak terbit terlalu awal,
sisakan kekesalan bagi sang semut yang ingin melintas.
Aku menengadah, mengingat-ingat dari konstelasi mana dulu aku berasal.
Meminjam istilah mereka : Debu.
Manusia, dan semua yang memutari surya
Manusia, dan semua yang memutari surya
awalnya adalah debu semesta,
debu di antara bintang.
Ketiadaan yang sama sekali tak nyaman
telah menjadi kehidupan aman!
Kekuasaan apakah yang melebihi ini ?
Sang jiwa yang merasa bersayap ini terus berpikir,
Kekuasaan apakah yang melebihi ini ?
Sang jiwa yang merasa bersayap ini terus berpikir,
merenung di setiap detiknya.
Apa tujuan Tuhan menciptakan dunia ?
Beruntunglah mereka yang berhasil terlelap tanpa harus bergelut dengan semua ini, pikirku.
Dan tetap saja aku yakin bahwa ketidaktahuanku adalah sebuah dosa.
Apa tujuan Tuhan menciptakan dunia ?
Beruntunglah mereka yang berhasil terlelap tanpa harus bergelut dengan semua ini, pikirku.
Dan tetap saja aku yakin bahwa ketidaktahuanku adalah sebuah dosa.
Malam yang panjang, dan gemerincing cahaya,
terangi kegelapan yang begitu hangat dan murni.
Bintang-bintang, langit yang bijak, dan ruang hening yang mendamaikan.
Sebuah mimpipun dimulai.
~a verse on fate~
Gerimis.
Rintiknya terdengar pelan, sunyi sayupnya seakan tersedu.
Aku mendekap diriku, menghangatkan semua yang masih bisa kuingat :
Rintiknya terdengar pelan, sunyi sayupnya seakan tersedu.
Aku mendekap diriku, menghangatkan semua yang masih bisa kuingat :
Waktu.
Hidup.
Dan dunia.
Masa telah berlalu bersisa kelu,
jiwa-jiwa pun menyesal telah berdosa,
kesal tak sempat berjasa.
Tuhan berkehendak begitu mutlak hingga akupun meragukan kehendak bebasku sendiri.
Benarkah aku telah selalu bisa memilih ?
Hidup.
Dan dunia.
Masa telah berlalu bersisa kelu,
jiwa-jiwa pun menyesal telah berdosa,
kesal tak sempat berjasa.
Tuhan berkehendak begitu mutlak hingga akupun meragukan kehendak bebasku sendiri.
Benarkah aku telah selalu bisa memilih ?
Hm.
Langit saat malam mulai hening,
nafas panjang sang jiwa yang selalu merasa bersayap,
dan hembus ketenangan perlahan, yang menghampar diatas dunia letih ini.
Seperti biasa, kerisauanku pun hanyut terbawa diam,
larut tersaruk malam yang melaju dalam senyap.
Aku selalu ingin menjadi setitik cahaya mungil,
yang bergemilau terkadang terang,
berdenyut meski seakan meredup.
Aku selalu ingin menjadi hembus lembut angin pagi,
yang menyapa tiap jiwa dari nyenyak rebahnya,
dan akhirnya hanyut,
Langit saat malam mulai hening,
nafas panjang sang jiwa yang selalu merasa bersayap,
dan hembus ketenangan perlahan, yang menghampar diatas dunia letih ini.
Seperti biasa, kerisauanku pun hanyut terbawa diam,
larut tersaruk malam yang melaju dalam senyap.
Aku selalu ingin menjadi setitik cahaya mungil,
yang bergemilau terkadang terang,
berdenyut meski seakan meredup.
Aku selalu ingin menjadi hembus lembut angin pagi,
yang menyapa tiap jiwa dari nyenyak rebahnya,
dan akhirnya hanyut,
dihangatkan sang surya yang mencinta nyaris sempurna.
Aku telah selalu ingin menjadi apapun yang bukan diriku.
Kini,
mungkin aku akan sejenak berhenti mengandai.
Aku telah selalu ingin menjadi apapun yang bukan diriku.
Kini,
mungkin aku akan sejenak berhenti mengandai.
Aku akan memulai memejamkan mata,
dan berhenti merisaukan dunia,
setidaknya hingga sang pagi hidup kemba
~epilog~
Bulu-bulu merpati.
Pisau perak.
Dan kupasan kulit apel.
Malaikat itu suka sekali apel, kuberitahu.
Terutama yang hijau.
Kau tak akan tahan dengan kesegarannya.
Sering sekali malaikat itu membisiki anak kecil agar berhenti menangis,
tak jarang pula sosok bersayap itu menyanyikan kedamaian di hati seseorang yang sedang dibaluti kesukaran.
Tetap saja.
Merasa tak terlalu berguna.
Merasa tak terlalu berharga.
Dan merasa tak terlalu pantas menjadi bersayap.
Kadang ingin memahami manusia sepenuhnya.
Tendensi elementer.
Aksiomisasi versi Tuhan.
Dan apapun yang seharusnya bisa dikenali manusia sebagai sesuatu yang dihadiahkan Tuhan pada mereka.
Sering terlintas.
Semakin banyak mengetahui, semakin merasa tidak berguna.
Pisau perak.
Dan kupasan kulit apel.
Malaikat itu suka sekali apel, kuberitahu.
Terutama yang hijau.
Kau tak akan tahan dengan kesegarannya.
Sering sekali malaikat itu membisiki anak kecil agar berhenti menangis,
tak jarang pula sosok bersayap itu menyanyikan kedamaian di hati seseorang yang sedang dibaluti kesukaran.
Tetap saja.
Merasa tak terlalu berguna.
Merasa tak terlalu berharga.
Dan merasa tak terlalu pantas menjadi bersayap.
Kadang ingin memahami manusia sepenuhnya.
Tendensi elementer.
Aksiomisasi versi Tuhan.
Dan apapun yang seharusnya bisa dikenali manusia sebagai sesuatu yang dihadiahkan Tuhan pada mereka.
Sering terlintas.
Semakin banyak mengetahui, semakin merasa tidak berguna.
Ini adalah malam dengan kilauan bintang-bintang mungil yang tak bisa malaikat itu hitung.
Kadang tebaran awan gelap membuat bulan yang pucat, terdiam di sudut langit sana terlihat sedikit lebih semarak.
Sejujurnya, jiwa bersayap itu kesulitan memikirkan bagaimana ia bisa berguna bagi dunia ?
Langit telah cukup indah.
Dan hamparan ruang hening di halaman belakang dunia pun telah cukup tenang seiring malam menaburkan gelap yang mendamaikan, dan bulan menghembuskan kehangatan yang sebenarnya terasa sedikit beku.
Sejujurnya, jiwa bersayap itu kesulitan memikirkan bagaimana ia bisa berguna bagi dunia ?
Langit telah cukup indah.
Dan hamparan ruang hening di halaman belakang dunia pun telah cukup tenang seiring malam menaburkan gelap yang mendamaikan, dan bulan menghembuskan kehangatan yang sebenarnya terasa sedikit beku.
Mungkin ada satu bintang yang kesepian diujung sana.
Malaikat itupun bangkit, bersegera beranjak dan melebarkan sayapnya.
Menoleh sejenak.
Tentu berat meninggalkan semua manusia ceroboh ini.
Menghela nafas.
Panjang, dalam, dan menyesakkan.
Langkah sang malaikat yang menjejak begitu berat itu menjadi pengganti air mata atau apapun yang takkan pernah lagi membasahi dunia dengan sisa-sisa emosi.
Sayap lembut itu menyentuh bukit itu untuk terakhir kalinya dan tak lama lagi akan menyatu dengan angin yang menderu mengangkat mimpi tiap manusia ke atap dunia untuk didoakan para malaikat.
Sehelai bulu putih mungil mendarat lembut diatas tumpukan kupasan apel.
Menoleh sejenak.
Tentu berat meninggalkan semua manusia ceroboh ini.
Menghela nafas.
Panjang, dalam, dan menyesakkan.
Langkah sang malaikat yang menjejak begitu berat itu menjadi pengganti air mata atau apapun yang takkan pernah lagi membasahi dunia dengan sisa-sisa emosi.
Sayap lembut itu menyentuh bukit itu untuk terakhir kalinya dan tak lama lagi akan menyatu dengan angin yang menderu mengangkat mimpi tiap manusia ke atap dunia untuk didoakan para malaikat.
Sehelai bulu putih mungil mendarat lembut diatas tumpukan kupasan apel.
..
Kesederhanaan memang indah, kuberitahu.
Bahkan kau tak perlu menjangkau langit untuk bisa tersenyum seperti jiwa-jiwa bersayap itu.
Yah, kuakui,
langit itu indah.
langit itu indah.
Tak heran malaikat pun bersayap.
(8, 10, 11, 14 Februari 2009)
**
09103. "Sisa-sisa sia-sia"
Aku berlari.
Setengah langkah per detik.
Aku berlari, bersegera, dan mulai tergesa.
Aku ingin semua berakhir sekarang.
Disini.
Cepat.
Tak perlu indah.
Tak perlu nyenyak.
Kumohon,
aku ingin segera terlelap,
aku ingin semuanya menjadi sedikit lebih senyap.
Kumohon, aku ingin segera terlelap.
Tak perlu nyenyak.
Aku berlari, bersegera, dan mulai tergesa.
Aku ingin semua berakhir sekarang.
Disini.
Cepat.
Tak perlu indah.
Tak perlu nyenyak.
Kumohon,
aku ingin segera terlelap,
aku ingin semuanya menjadi sedikit lebih senyap.
Kumohon, aku ingin segera terlelap.
Tak perlu nyenyak.
..
Sekarang.
Semua.
Sia-sia.
Semuanya.
Seakan.
Sisa. Semata.
Seakan.
Sisa. Semata.
(11 Maret 2009)
**
09104. "Tuhan, yang Berkuasa"
Dunia mengeja setiap detik takdirnya seakan telah tertulis rapi di suatu tempat diatas sana.
Manusia-manusia memuja.
Memohon sepercik keagungan untuk mewarnai kehidupannya.
Tuhan Berkuasa.
Berkehendak.
Menentukan.
Mutlak.
Dan itulah mengapa manusia sangat layak berdoa.
Gumpalan momen yang menyimpan gulungan cerita,
tumpukan harapan yang menawarkan sedikit lagi duka.
Tawa akan menjadi begitu berharga begitu Tuhan memintamu menangis.
..
Dedaunan.
Rel berkarat.
Bukit kerikil.
Dan pagi yang entah tersenyum atau tercenung.
Telah jutaan kali aku melihat apa yg selalu kuanggap malaikat.
Telah ribuan kali aku percaya bahwa keajaiban akan muncul sekali lagi.
Ya, Keajaiban
(12 Maret 2009)
**
09105. "A Two-night Melody"
Mengapa malam ini ?
Terakhir dan segera berakhir.
Terakhir dan segera berakhir.
Malam masih hidup ketika tawa mulai lemas dan kehidupan mulai kelelahan.
Langit pekat menghangat seakan menyembunyikan bintang,
Langit pekat menghangat seakan menyembunyikan bintang,
memungilkan dunia yang dihuni jiwa-jiwa setengah terlelap.
Mengapa malam ini?
Terakhir dan segera berakhir.
Mengapa malam ini?
Terakhir dan segera berakhir.
Bulan ketakutan diujung sana.
Seakan menyetujui kesedihanku ia bersembunyi dibalik awan.
Bulan gemetar diujung sana.
Cerita-cerita berhamburan bercampur mimpi yang tak diindahkan malaikat.
Bulan mengigil diujung sana.
Hidup ditengah tarian bintang tanpa bisa memeluk satupun.
Mengapa malam ini?
Terakhir dan segera berakhir.
Seakan menyetujui kesedihanku ia bersembunyi dibalik awan.
Bulan gemetar diujung sana.
Cerita-cerita berhamburan bercampur mimpi yang tak diindahkan malaikat.
Bulan mengigil diujung sana.
Hidup ditengah tarian bintang tanpa bisa memeluk satupun.
Mengapa malam ini?
Terakhir dan segera berakhir.
Sayatan tajam kebekuan telah mengiris pelu kulit terluar jiwaku.
Seakan kedinginan akupun memeluk diriku.
Cahaya remang dan butiran bintang disekelilingku seakan berbinar.
Seolah kebingungan akupun mendekap sebuah.
Seakan kedinginan akupun memeluk diriku.
Cahaya remang dan butiran bintang disekelilingku seakan berbinar.
Seolah kebingungan akupun mendekap sebuah.
Malam yang singkat.
Tawa yang masih lekat.
Dan semua cerita yang terasa terlalu hangat.
Mengapa malam ini?
Terakhir dan segera berakhir.
Mengapa malam ini?
..
Berjalanlah sedetik lebih lama lagi, malam hangatku.
Tawa yang masih lekat.
Dan semua cerita yang terasa terlalu hangat.
Mengapa malam ini?
Terakhir dan segera berakhir.
Mengapa malam ini?
..
Berjalanlah sedetik lebih lama lagi, malam hangatku.
Tersenyumlah sedikit lebih indah lagi,
malaikatku.
(12 Maret 2009)
**
09106. "Dan Cahaya tak Lagi Bersayap"
Ia adalah Percikan Debu Bintang,
kilau yang terlihat tiap kali sebuah bintang melintas,
Ia adalah ekstensi eksistensi
Ia adalah ekstensi eksistensi
yang rela jadi bayangan
kala seluruh dunia bergemilau terang,
Ia adalah jiwa mirip cahaya
Ia adalah jiwa mirip cahaya
yg bisa kesal & membelah apapun yg dilaluinya.
Oh, dan ia bersayap.
Oh, dan ia bersayap.
Ia sering diminta kumpulan bintang untuk menari
di Lingkup Terhening Semesta,
ruang raksasa tanpa selubung
dipenuhi tarian malaikat dalam selimut rasi
hingga iapun merasa bahwa dirinya semulia bintang.
Ia sering merasa bahwa dirinya lebih suci dari para pemohon ampunan itu.
Ia sering merasa bahwa dirinya lebih suci dari para pemohon ampunan itu.
Dan akhirnya ia pun dikutuk tak bisa lagi menari, berpendar sekalipun
sayap-sayapnya patah bagai serpihan mimpi yang hampir utuh
dan tiap kata yang ia bisikkan dialiri kepedihan.
Kehangatan purnama seakan tak cukup untuk hentikan tangisnya
Kehangatan purnama seakan tak cukup untuk hentikan tangisnya
dan ia terus meraung memohon
kesempurnaan dari Tuhannya.
Selamanya, mungkin ia takkan pernah lagi seberkilau dulu.
(28 Maret 2009)
**
09107. "Thoughts of the Wishful"
*What are truth and reality ?
they are something that you perceive.
*What is destiny ?
it is something you must receive.
*What is a hope ?
it is something you shall not deceive.
*What is a victory ?
it is something you've got to achieve.
*What is happiness ?
it is something that many cannot retrieve.
*What is a blessing ?
it is something that fulfills you when you forgive.
*What is a love ?
it is something that often remains so brief.
*What are sadness and tears ?
they are parts of God's mercy by which we'll find ourself a relief.
*What is a miracle ?
it is a truth destined for those who hope for victory, happiness, blessings, and actual true love gifted by the Blessing Being, He who creates cryings and smiles.
it is something in which we shall believe.
they are something that you perceive.
*What is destiny ?
it is something you must receive.
*What is a hope ?
it is something you shall not deceive.
*What is a victory ?
it is something you've got to achieve.
*What is happiness ?
it is something that many cannot retrieve.
*What is a blessing ?
it is something that fulfills you when you forgive.
*What is a love ?
it is something that often remains so brief.
*What are sadness and tears ?
they are parts of God's mercy by which we'll find ourself a relief.
*What is a miracle ?
it is a truth destined for those who hope for victory, happiness, blessings, and actual true love gifted by the Blessing Being, He who creates cryings and smiles.
it is something in which we shall believe.
(31 Maret 2009)
**
Triwulan 2
09201. "The Once Fruitful Tree"
Life is a journey of no return.
Fate is a contest of carving the best end.
Life and Fate, both have opposite senses of infinite limitation and impregnability of human wills,
Fate is a contest of carving the best end.
Life and Fate, both have opposite senses of infinite limitation and impregnability of human wills,
that in Life one cannot go back, and regarding Fate, none can fast forward the flow.
Yet both are isomorphic expressions of a single truth,
Yet both are isomorphic expressions of a single truth,
The God.
The singularity of which we are closest to zero while God is himself the infinity.
The wild and lusty dream of humanity to control history has always been a futile and failing efforts that necessarily ends in vain.
People make mistakes
The wild and lusty dream of humanity to control history has always been a futile and failing efforts that necessarily ends in vain.
People make mistakes
yet it is neither necessary to fix the past, nor to change the future
People can always apologize
and God, as He wills, can always forgive.
and God, as He wills, can always forgive.
(11 April 2009)
**
09202. "Ladang Tanpa Ilalang"
Udara tanpa hembusan, sunyi
selembut hati ketika ia menangis.
Hening
senyap, kosong, dan ruang bening.
Langit tertawa tanpa suara
tepat ketika sang malaikat menoleh sejenak
dan seakan berpijak, ia melangkah di udara kosong.
Tersandung tawanya sendiri, ia terantuk
kemudian ia gemetaran
dan cucuran dingin pun bermekaran.
Terhentak oleh senyap
terbangun oleh rasa kantuk
lalu terbatuk.
Sang malaikat tahu
ia tak muda lagi,
tawa sudah tak pantas untuknya.
Ia lebih memerlukan sebuah sayap
ya, sebuah saja.
sepasang akan menjadi terlalu banyak.
(13 April 2009)
**
09203. "An Infinite Splash of Color"
Langit terlihat canggung ketika jiwa penuh mimpi itu
menyapanya malam ini seiring ia mengarungi jejak langkah bintang.
Langit terlihat canggung ketika jutaan tawa itu
melayang dari lelapan-lelapan nyenyak dibawah sana.
Ia, sang jiwa bersayap separuh, hanya bisa tenang ketika udara bergemuruh dan menyiulkan nyanyian-nyanyian merdu harapan,
ya !
Gelembung mimpi !
Ribuan bulatan gempal melayang didekatnya,
disentuhnya sebuah dan tiba-tiba ia dialiri kebahagiaan
Tak lama
sampai langit gelap lagi.
Kepekatan itu seakan benci kehangatan.
sang jiwa bersayap separuh itu pun gemetaran,
membeku dan ingin segera memeluk sesuatu.
Tetapi langit tetap hening
kosong bagaikan udara
dan terasa semembekukan kesendirian.
Tak ingin ditertawakan oleh ketiadaan ia pun mengambil segenggam cahaya dari saku mungilnya.
Sempat menyilaukan,
membutakannya dengan tak hingga warna.
Namun perlahan meleleh
perangkapi mereka yg memeluk terlalu erat
telan mereka yg tertawa terlalu awal.
(17 April 2009)
**
09204. "Blurry Night, Starry Light"
Tak ada yang abadi,
tak ada yang tak berganti,
dan tak ada yang tak berhenti.
Dengan waktu, jiwa-jiwa diuji,
dan hanya yang terpilihlah yang kelak terpuji.
Dengan waktu, tawa dibatasi,
dan hanya yang tuluslah yang kelak terkasihi.
Masa lalu, masa yang takkan lagi berlalu,
masa yang telah menjadi begitu jauh setiap detiknya
Masa lalu selalu disesali,
selalu ingin diulangi berkali-kali.
Masa lalu indah tak ternilai,
seakan masa kini pun menjadi tak bernilai.
Masa lalu adalah gulungan waktu yang telah tersimpan rapi dalam lipatan takdir.
Meski getir.
Masa lalu, mimpi terbaik adalah mengulanginya,
dan mimpi terburuk adalah menyadari bahwa mengulanginya hanyalah mimpi.
Seringkali kita menemukan sesuatu yang indah,
seringkali kita memiliki segalanya,
seringkali kita berhasil melahirkan kenyataan dari tumpukan impian.
Dan seringkali kita menangis ketika sadar bahwa seringkali, semua itu tak mungkin terjadi lagi.
(28 April 2009)
**
09205. "The Right to Dream"
Sebuah malam mungkin takkan cukup untuk merenungi kenyataan yang melingkarinya.
ia terduduk. terdiam tanpa angguk.
mencoba berdoa meski terbata.
ia ingin dapat mengingat Tuhan sesering ia melupakanNya.
ia ingin dapat mencintai Tuhan sesering ia mementingkan dirinya sendiri.
dan ia selalu ingin menjadi hamba yg berterimakasih.
Ia sadar, seringkali Tuhan memberinya impian yang begitu tak nyata. tak realistis.
dan seringkali Tuhan memberinya penjelasan yang juga begitu tak nyata. tak terlalu puitis.
Ia bingung dengan alasan dianugerahkannya mimpi jika tak untuk jadi nyata.
Ia bingung dengan alasan diciptakannya cinta dan kemauan jika tak ada satupun yang mengejawantah.
Ia takut pada kemahakuasaan Tuhan,
ia tak tahu kenapa ia bisa berkeinginan jika toh Tuhanlah yg maha mewujudkan ?
ia tak mengerti kenapa ia dijadikan pemimpi yangg begitu ulung
padahal dunia adalah kenyataan yang begitu jauh ?
Dan akhirnya ia pun menangis, menatap tak lagi bengis,
pada dirinya sendiri,
pada dirinya yang lain yang hidup dan hanya nyata ketika ia tertidur,
pada dunianya,
pada apa yang ia punya,
dan pada segala hal yang liputi sebuah tanya : berhakkah ia bermimpi ?
(09 Mei 2009)
**
09206. "The Need to Dream"
Malam memeluk tak tegas, seakan gelisah dunia pun terkulai enggan berdiri.
Hidup selalu berliput gelut yang begitu keras, seakan merendah manusia pun mulai enggan bermimpi.
Penggalan hari berlalu secepat awan tanpa bintang,
menyisakan ketakutan bagi jiwa-jiwa yang kehausan mimpi.
Tiap detik membawa nafas baru bagi kematian cita seluruh dunia,
hingga kegelisahan menjerat kian erat, meremukkan segala asa yang sempat bergemilau secerah cercah
Seringkali, merasa gagal adalah kegagalan yang sebenarnya,
kematian bagi harapan,
kelumpuhan sang pemimpi yang gemetaran dihadapan kemustahilan.
Ia adalah jiwa penuh tawa yang lemah,
yang utk melangkah sejengkal pun memerlukan nafas sebanyak genggaman
Ia adalah jiwa ceria yang terlampau bebal untuk mengerti mengapa Tuhan menciptakan impian
jika begitu banyak yang tak jadi nyata?
Yang ia tahu, mimpi menjaganya tetap hidup, semustahil apapun tuk jadi nyata.
yang ia tahu, mimpi menjaga nyawanya agar tak redup, sesulit apapun untuk jadi nyata
karena ia pun tahu, mimpi adalah cara Tuhan menyemangati hambaNya,
semenakutkan apapun andaikan tak jadi nyata.
(21 Mei 2009)
**
09207. "A Bit of a Night Light Sight"
Sejenak, ia memperjalankan tatapnya pada alur bintang-bintang
yang membekas indah pada langit yang tengah sapa doa-doa.
Sejenak, ia memutar pandangan
dan kemenakjuban yang ia rasakan justru makin kuat.
Sebuah hari telah mengajarinya apa yang benar-benar penting,
meski ia tak pernah mengerti sepenuhnya.
Sebuah hari telah mengajarinya bahwa kebahagiaan itu sesaat,
sedetik kemudian iapun tak ingin lagi dan segera lupa.
Semoga, ia berharap, melalui tiap kesalahan yang ia perbuat,
ia menemukan kebenaran;
dan melalui tiap insan yang berusaha ia selamatkan,
Tuhan menyelamatkannya.
(21 Mei 2009)
**
09208. "A Wish to Unpredestine"
Semenjak ia sadar tak punya sayap, ia selalu dikelilingi kebahagiaan
yang menari memperindah dunia siapapun didekatnya,
tanpa menyentuhnya sama sekali seakan malaikat keberuntungan pun
menganggapnya pembawa sial !
Ya, selalu begitu tiap ia menengadah,
mencoba menemukan butiran bintang penunjuk arah,
ia selalu merasa ada jutaan tawa berlalu-lalang didekatnya tanpa ada satupun yang jadi miliknya.
Selalu begitu.
Hingga ia putuskan untuk tak lagi hidup dalam kehidupannya sendiri.
tak lagi hidup untuk dirinya sendiri,
tak lagi bermimpi dan berdoa untuk dirinya sendiri.
bukan lagi dirinya sendiri.
Sesuatu telah menariknya dalam ketakabadian abadi.
sesuatu yang begitu indah, menurutnya.
Dan kini tiap tawanya harus dialiri tangisan ketakberdayaan.
ketika ia akhirny sadar
bahwa dunia yang selama ini dia hidupi bukanlah dunianya.
tetapi apa yang bisa ia lakukan?
Bagaimana lagi ia bisa sembunyikan kelemahannya?
Ia tak lagi ingat dimana dunianya ia taruh.
dunia yang memang hanya tinggal separuh.
(23 Mei 2009)
**
09209. "Dream Dust"
Sepenggal hari menyelinap, mengecoh kesadaran
dengan mimpi yang tak mau pergi,
dan ketika tersadar dunia sudah hampir pagi.
Sepenggal hari melesak pelan tak terlacak,
sisakan desak tanpa berjejak,
hingga ia pun sadar tak lagi bijak.
Langit menawarkan sebongkah tawa untuk ia ambil,
dan ia tak berani meraih, gemetar seakan menggigil.
Ia tahu ia pemimpi yang terlalu mungil.
Bulu-bulu peraknya terbaring tanpa asa,
letih mengepak, sayapnya yang tiada itu melipat peluk punggungnya.
Mungkin ia bosan tak dapat terbang,
mungkin ia lelah tak bisa mengalah,
dan mungkin ia marah tak sempat menyerah !
Bongkahan petang yang penuh patahan arang itu
semestinya cukup cegah ia jatuh terlalu jauh.
Tetesan air mata tanpa arti itu seharusnya bisa cegah ia melayang dan lalu hilang.
Bahkan nyamuk pun terlelap, gerutunya.
Dan dunia telah mulai gelap, dipenuhi gemerlap harap.
Ia tahu, ini waktu yang tepat untuk menebar debu mimpi,
menandai dunia dengan jangkauan harapannya,
menyanjungi segala tanpa peduli semembosankan apapun hari ini,
dan lalu berharap agar ia mampu terlelap
tanpa ingat betapa ia telah lelah memejam.
(24 Mei 2009)
**
09210. "Waktunya Bekerja Sama, Kebenaran"
Malam bertutur nyaris berbisik
pada dedaunan yang gugur tanpa gemerisik.
Bintang-bintang, bulan, dan himpunan awan merangkak bingkai heningnya awal malam.
Seakan terbangun dari kesadarannya,
jiwa tanpa sayap itu tak lagi tenggelam kian dalam
di ranah hampir nyata yang bernama impian.
Malam ini tak seperti biasa,
tiada kesungguhan tuk gapai puncak dunia,
tiada keinginan dapatkan semua,
dan tiada lagi kebahagiaan yang biasa ia temukan ketika ia bersedih.
Ia sadar,
dunia adalah kenyataan,
dan apa yang nyata adalah kebenaran.
mimpi dan harapan pun takkan pernah senyata keadaan.
Ia pun bersegera,
lipat sayapnya, ambil ancangnya.
Dunia ada disana untuk ia menangkan.
(30 Mei 2009)
**
09211. "Still Ill"
Senyuman mungil di langit,
itu yang buat kabut bintang diatas dunia sedikit terurai.
Tawa bersemayam diatas kenyataan,
mimpi berutas keyakinan,
kesedihan beralaskan keterbatasan,
dan bahkan ketiadaan adalah nyanyian indah baginya.
Sehela kehangatan telah cukup lingkupi kosongnya dengan impian
yang seakan melahirkan dirinya sendiri tiap saat,
terabadikan dari kehilangan dan keputusasaan.
Dan inikah yg ia inginkan?
Entah, dunia tak pernah seberarti mimpi baginya.
Yang ia tahu, malam tercipta agar ia menjadi nyata.
Lalu realitas? ketidakmampuannya?
keterbatasannya?
naah.. hanya retakan kecil, pikirnya.
dan retakan kecil itu hanya hiasan.
(31 Mei 2009)
**
09212. "Cermin si Pengagum"
Debu mungil di sela helaian, begitu ia merasa.
Tak terlalu berandil penuh tentu
bahkan tak layak disebut kabut.
Bergelegak tak gemerlap,
berpendaran tak menerangi.
Dan ada frase sebanyak bintang yang dapat dipakai untuk membicarakannya.
ia, ia, ia.
siapakah "ia" ?
Selamanya, "ia" akan selalu menjadi orang ketiga tunggal dalam percakapan apapun : penggambaran sempurna atas kehidupannya,
itulah mengapa ia senang menyebut dirinya "ia".
ia tak (pernah) punya sayap,
selalu nyaman berlumur senyap,
bersinar dlm gelap,
benci apapun yang bergemerlap,
bahkan ia pun hidup, bernafas, dan bergerak.
ia bermimpi sesering kedipan matanya,
secepat itu pula melupakannya.
ia selalu punya pelarian,
tempat sembunyi dari keseharian.
ia selalu punya impian.
dan pilihan.
hingga tepat setelah sebuah detik yang tidak disadari berlalu
ia pun tersadar, ia kini tahu
hanya ada ia,,
dunia,
karunia,
dan sebuah kebencian segitiga.
(1 Juni 2009)
**
09213. "Ruang Tanpa Tempat Berpaling"
Kawan hari ini : ujung terik yang menghujam, angin pengap tanpa hujan
dan sisa rasa kantuk yg masih seranjang.
Seperti biasa, ia luar biasa.
Tak hanya memikirkan seluruh dunia ia pun memikirkan dirinya sendiri.
Ah,, andai ia malaikat,
andai ia bersayap,
dan andai ia semenarik mimpi-mimpinya...
Agar tidak bosan ia pun berdoa,
ia ingin selalu tahu mengapa ia selalu ingin tahu,
ia ingin bisa mengerti mengapa ia tak bisa mengerti,
dan ia ingin Tuhan mengubah cara dirinya mengubah orang lain.
..
Hari yg singkat.
Beberapa jiwa lelah tertawa,
beberapa lagi tercenung, merenung mendengung kidung bingung.
Sebuah jiwa menangis terbahak-bahak,
padahal tawanya penuh sedu.
belakangan memang ia selalu begitu,
menutup diri begitu dini, seperti jendela tak berpintu.
ia punya alasan. tapi ia tak punya penjelasan.
ia hanya ingin lelap dalam ketiadaan, dan ia tahu. tidak akan ada yang menganggap itu masuk akal.
(5 Juni 2009)
**
09214. "Serawa Tawa"
Malam ini terik,
gumpalan gelap berarak melambat, seperti umpati gelembung mimpi.
Angin yang hampir sejuk itu bersemilir,
memeluk jiwa-jiwa telentang yang bahkan belum berhenti berpikir.
Tapi, ya,, malam ini hangat.
(5 Juni 2009)
**
09215. "Titik lalu Koma"
Malam.
Masa mengenang kelam si tanpa nyali,
dan masa meredam geram, bagi sang tersakiti.
Sesaat sebelum memejam, tangan ringkih bergenggaman
seakan memuja keterkabulan, lisan letih itu eja-ejai harapan.
..
Nyaris bersayap sebuah jiwa menoleh
ah, dirinya sendiri !
Ayunan tua, pohon besar, dan kegelapan.
Tatapan mungil, binar berkaca, hidung sembab yang kesulitan menghela,
kepalan erat, serta ingatan yang berkarat.
Anak kecil itu tertunduk, mengayun maju-mundur.
Mengingatkan sang jiwa pada impiannya kala itu
yang mengalun seolah melacur.
Petir menyambar, koyaki timbunan berat di punggung langit.
Anak itu tersenyum.
Dan anak itu pun menyesal. menatap lumuran gelap di tanganny seakan masih bisa diajak bicara.
...
Ah, ia mual. jiwa tak bersayap itu ingin muntah.
ia benci bercermin. dan ia benci masa lalu.
(7 Juni 2009)
**
09216. "The Happiness He Dreamt Of"
Hal kecil.
Tak perlu seisi dunia agar ia bahagia.
Tawa mungil.
Hanya butuhkan selimut kecil agar ia berhenti menggigil.
Berdebu.
Realitanya tanpa elu yang menggebu.
Melata.
Nyaris tak berjiwa, ia menundukkan kepala.
Menatap hina pada citanya yang tak hingga.
Menyata.
Mimpinya dahului semua cerita.
Dan seolah tanpa belas, dekapi kebahagiaan agar tak mau pergi.
Menyata.
Tawa ringkih itu menghilang, lalu jadi nyata,
(8 Juni 2009)
**
09217. "Angels Talk, Walk, Spark, and Cry"
Ujung sayap.
Tajam.
Menjentik lentik bagaikan udara.
Mengiris miris bagaikan kenyataan.
Dan memeluk seakan menemani, dalam keterenggutan nyawa.
ia merasakan keterbatasannya,
keterhinggaannya.
bhw mungkin ia bukan seorangpun yang dibanggakan dunia
Dan itu membuatny nyaman bergantung pada apapun.
serapuh apapun itu.
sejauh apapun itu.
se-tak-masuk-akal apapun itu.
se-tak-indah apapun itu.
..
Peluh. Keluh. Elu. Semua menyatu pilu.
Tak ingin koyak ketegaran, tapi hati seakan dihujam kebenaran,
menangis satu malam.
dari desakan yg membuncah itu.
Dan dari ledakan-ledakan kecil dikepalanya
(9 Juni 2009)
**
09218. "Ia Bermimpi Ia Hidup"
Terhenyak.
Ingin berhenti. Lalu nyenyak.
Tapi tanpa henti, meski dua jenak.
Malam berpaling mengaburkan kedatangan sang pagi,
seakan tak peduli, ia putuskan mulai bermimpi.
Mimpi yang sama,
yang telah jadi kehidupannya,
yang telah jalari jiwanya,
aliri darahnya,
jadi pengganti bagi udara
yang ia rasa terlalu nyata, dan menyesakkan.
..
Tak ada.
Segala terbungkus noda, menyamarkan senyum yang sempat ada.
Kehilangan sesuatu, maka jiwa mencarinya,
segera ia terpaku, karena yang hilang adalah dirinya.
Menengadah, ia cari potongan rasi.
Terperangah, lalu berlari seperti hendak dihabisi.
Yang menatapny dari lautan bintang adalah ketidakpastian,
ketidakabadian, kefanaan,
dan kebenaran yang berlebihan.
Jiwa itu kabur,
melesat menghujam lumpur,
menggila dikuasai umur,
meronta diikat keterbatasan,
dan merintih hingga ringkih, hidupnya tak lagi miliknya,
tak lagi untuknya,
tiada lagi bentuknya.
Hidupnya kini pelarian menyelamatkan bintang-bintang yang kehilangan sebutir cahayanya,
hidupnya kini pengorbanan membahagiakan malaikat-malaikat yang kelelahan tertawa,
dan hidupnya adalah untuk satu tempat di surga, meski mungkin bukan baginya.
ia menyesal telah memijak awan,
membuatnya merasa tinggi tapi ia tak bisa lagi berlari.
ia akan menyesal telah awali sebuah akhir,
ia akan menyesal tak sempat perbaiki dunia,
dan ia akan menyesal, tak pernah hidup dalam kehidupannya sendiri.
Kelelahan, ia menepi.
sayap yang sepasang tak akan meneduhinya, ia tahu itu.
tapi bahkan ia tak punya satupun.
Dan segera, deru kelu kenyataan dari lautan bintang menerpanya !
menenggelamkannya !
hingga iapun tersadar, ia tak hidup dalam masa lalu
tapi ia bermimpi ! karena ia sang pemimpi, pengagum nurani yang hampir saja mati.
ia bermimpi, dalam masa lalu
larikan diri dari masa kini.
buang-buangi waktu, andai-andaikan sebuah masa yang mungkin datang.
(10 Juni 2009)
**
09219. "Lelah Berpuisi"
Biasanya, jiwa itu bernyanyi ketika dipeluk malam terlalu erat,
jauh dari hangat, terlumur gelap pekat.
Biasanya, tawa itu berbaris meniti rintikan garam penuh emosi,
peluh penuh keluh, bercampur gemuruh yang pura-pura gaduh.
Biasanya, berbait makna mengalir bagai petir tiap ada patahan kegelisahan yang tertahan.
Biasanya.
Dan biasanya, ia bingung menulis asanya.
Ketika mungkin,
sehimpun gemilau telah membias menjadi sebuah senyuman,
yang mengembun menyejukkan,
meski ya, tipis bagai harapan.
(10 Juni 2009)
**
09220. "Nafas Panjang"
Tam tararam.
Bintang-bintang menggelembung, menggemaskan !
Angin berhembus enggan, elus pelan indera kebahagiaan sang jiwa tak bersayap.
Tarararam
lompatan-lompatan mungil berkilauan di hamparan angkasa,
ukiri doa, butiran impian kaya makna.
Tarian, tarian, tarian.
Hembusan nafas panjang itu menghangatkan, meski sedetik saja.
Mimpi-mimpi meretas, jiwa-jiwa melekas telah mulai menggagas.
Harapan-harapan itu
bergegas menetas !
(15 Juni 2009)
**
09221. "Berangan Diujung Awan"
Hari ini sepertinya malam berlalu lebih pesat dari biasa,
mungkin sedang tergesa
iringi berpulangnya sang hari
yang penat dan nyaris mati rasa.
Sebuah jiwa yang kelelahan baru saja terbangun dari kenyataan
tepat ketika patahan-patahan awan mulai berjatuhan
terurai bertabur gelap, sang jiwa pun terkulai berselimut lelap.
Ah, bulan buncit
Seakan tertelan kenyataan, bintang-bintang mulai enggan memperindah dunia,
hanya ada langit kelam, mendung tebal, dan angin kesal
Jiwa bebal itu pun merenung diujung awan
mengandaikan lumuran angan yang telah selalu menenggelamkannya dalam kenyamanan,
memanggil-manggil masa lalu yang tak mungkin menoleh lagi,
dan mengharapkan kemustahilan yang tiba-tiba jadi nyata.
Ditemani kilauan sayu bulan buncit diatas genangan,
nanarnya bergemilauan hampir terang
bergemerlapan hendak layu, sulit melepas kenangan.
Dibayangi derap cepat kehidupan yang terlalu sering menuntut segalanya,
nyanyian cita yang terlalu cepat usang,
dan pijakan landai yang serapuh sebuah andai,
memarnya berdenyut memberinya kehidupan:
karena ia bernafas dengan lukanya,
dan akan segera mati begitu semua orang bahagia
Bagaimanapun
ia masihlah pengagum segala yang selalu enggan tertawa
penyampai cerita yang terlalu mudah terbawa
peranum derita yang tak pernah letih bersandiwara
dan jiwa tanpa daya yang belum bosan bermimpi :
berangan hingga tenggelam, diujung langit sana
maka jangan lelah menemaninya
berandai, bercerita
dan berbagi sepotong senyap.
Mungkin kelak
ia dapat tersungkur
jauh lebih damai
nyenyak,
dan akhirnya bersayap.
(23 Juni 2009)
**
09202. "Ladang Tanpa Ilalang"
Udara tanpa hembusan, sunyi
selembut hati ketika ia menangis.
Hening
senyap, kosong, dan ruang bening.
Langit tertawa tanpa suara
tepat ketika sang malaikat menoleh sejenak
dan seakan berpijak, ia melangkah di udara kosong.
Tersandung tawanya sendiri, ia terantuk
kemudian ia gemetaran
dan cucuran dingin pun bermekaran.
Terhentak oleh senyap
terbangun oleh rasa kantuk
lalu terbatuk.
Sang malaikat tahu
ia tak muda lagi,
tawa sudah tak pantas untuknya.
Ia lebih memerlukan sebuah sayap
ya, sebuah saja.
sepasang akan menjadi terlalu banyak.
(13 April 2009)
**
09203. "An Infinite Splash of Color"
Langit terlihat canggung ketika jiwa penuh mimpi itu
menyapanya malam ini seiring ia mengarungi jejak langkah bintang.
Langit terlihat canggung ketika jutaan tawa itu
melayang dari lelapan-lelapan nyenyak dibawah sana.
Ia, sang jiwa bersayap separuh, hanya bisa tenang ketika udara bergemuruh dan menyiulkan nyanyian-nyanyian merdu harapan,
ya !
Gelembung mimpi !
Ribuan bulatan gempal melayang didekatnya,
disentuhnya sebuah dan tiba-tiba ia dialiri kebahagiaan
Tak lama
sampai langit gelap lagi.
Kepekatan itu seakan benci kehangatan.
sang jiwa bersayap separuh itu pun gemetaran,
membeku dan ingin segera memeluk sesuatu.
Tetapi langit tetap hening
kosong bagaikan udara
dan terasa semembekukan kesendirian.
Tak ingin ditertawakan oleh ketiadaan ia pun mengambil segenggam cahaya dari saku mungilnya.
Sempat menyilaukan,
membutakannya dengan tak hingga warna.
Namun perlahan meleleh
perangkapi mereka yg memeluk terlalu erat
telan mereka yg tertawa terlalu awal.
(17 April 2009)
**
09204. "Blurry Night, Starry Light"
Tak ada yang abadi,
tak ada yang tak berganti,
dan tak ada yang tak berhenti.
Dengan waktu, jiwa-jiwa diuji,
dan hanya yang terpilihlah yang kelak terpuji.
Dengan waktu, tawa dibatasi,
dan hanya yang tuluslah yang kelak terkasihi.
Masa lalu, masa yang takkan lagi berlalu,
masa yang telah menjadi begitu jauh setiap detiknya
Masa lalu selalu disesali,
selalu ingin diulangi berkali-kali.
Masa lalu indah tak ternilai,
seakan masa kini pun menjadi tak bernilai.
Masa lalu adalah gulungan waktu yang telah tersimpan rapi dalam lipatan takdir.
Meski getir.
Masa lalu, mimpi terbaik adalah mengulanginya,
dan mimpi terburuk adalah menyadari bahwa mengulanginya hanyalah mimpi.
Seringkali kita menemukan sesuatu yang indah,
seringkali kita memiliki segalanya,
seringkali kita berhasil melahirkan kenyataan dari tumpukan impian.
Dan seringkali kita menangis ketika sadar bahwa seringkali, semua itu tak mungkin terjadi lagi.
(28 April 2009)
**
09205. "The Right to Dream"
Sebuah malam mungkin takkan cukup untuk merenungi kenyataan yang melingkarinya.
ia terduduk. terdiam tanpa angguk.
mencoba berdoa meski terbata.
ia ingin dapat mengingat Tuhan sesering ia melupakanNya.
ia ingin dapat mencintai Tuhan sesering ia mementingkan dirinya sendiri.
dan ia selalu ingin menjadi hamba yg berterimakasih.
Ia sadar, seringkali Tuhan memberinya impian yang begitu tak nyata. tak realistis.
dan seringkali Tuhan memberinya penjelasan yang juga begitu tak nyata. tak terlalu puitis.
Ia bingung dengan alasan dianugerahkannya mimpi jika tak untuk jadi nyata.
Ia bingung dengan alasan diciptakannya cinta dan kemauan jika tak ada satupun yang mengejawantah.
Ia takut pada kemahakuasaan Tuhan,
ia tak tahu kenapa ia bisa berkeinginan jika toh Tuhanlah yg maha mewujudkan ?
ia tak mengerti kenapa ia dijadikan pemimpi yangg begitu ulung
padahal dunia adalah kenyataan yang begitu jauh ?
Dan akhirnya ia pun menangis, menatap tak lagi bengis,
pada dirinya sendiri,
pada dirinya yang lain yang hidup dan hanya nyata ketika ia tertidur,
pada dunianya,
pada apa yang ia punya,
dan pada segala hal yang liputi sebuah tanya : berhakkah ia bermimpi ?
(09 Mei 2009)
**
09206. "The Need to Dream"
Malam memeluk tak tegas, seakan gelisah dunia pun terkulai enggan berdiri.
Hidup selalu berliput gelut yang begitu keras, seakan merendah manusia pun mulai enggan bermimpi.
Penggalan hari berlalu secepat awan tanpa bintang,
menyisakan ketakutan bagi jiwa-jiwa yang kehausan mimpi.
Tiap detik membawa nafas baru bagi kematian cita seluruh dunia,
hingga kegelisahan menjerat kian erat, meremukkan segala asa yang sempat bergemilau secerah cercah
Seringkali, merasa gagal adalah kegagalan yang sebenarnya,
kematian bagi harapan,
kelumpuhan sang pemimpi yang gemetaran dihadapan kemustahilan.
Ia adalah jiwa penuh tawa yang lemah,
yang utk melangkah sejengkal pun memerlukan nafas sebanyak genggaman
Ia adalah jiwa ceria yang terlampau bebal untuk mengerti mengapa Tuhan menciptakan impian
jika begitu banyak yang tak jadi nyata?
Yang ia tahu, mimpi menjaganya tetap hidup, semustahil apapun tuk jadi nyata.
yang ia tahu, mimpi menjaga nyawanya agar tak redup, sesulit apapun untuk jadi nyata
karena ia pun tahu, mimpi adalah cara Tuhan menyemangati hambaNya,
semenakutkan apapun andaikan tak jadi nyata.
(21 Mei 2009)
**
09207. "A Bit of a Night Light Sight"
Sejenak, ia memperjalankan tatapnya pada alur bintang-bintang
yang membekas indah pada langit yang tengah sapa doa-doa.
Sejenak, ia memutar pandangan
dan kemenakjuban yang ia rasakan justru makin kuat.
Sebuah hari telah mengajarinya apa yang benar-benar penting,
meski ia tak pernah mengerti sepenuhnya.
Sebuah hari telah mengajarinya bahwa kebahagiaan itu sesaat,
sedetik kemudian iapun tak ingin lagi dan segera lupa.
Semoga, ia berharap, melalui tiap kesalahan yang ia perbuat,
ia menemukan kebenaran;
dan melalui tiap insan yang berusaha ia selamatkan,
Tuhan menyelamatkannya.
(21 Mei 2009)
**
09208. "A Wish to Unpredestine"
Semenjak ia sadar tak punya sayap, ia selalu dikelilingi kebahagiaan
yang menari memperindah dunia siapapun didekatnya,
tanpa menyentuhnya sama sekali seakan malaikat keberuntungan pun
menganggapnya pembawa sial !
Ya, selalu begitu tiap ia menengadah,
mencoba menemukan butiran bintang penunjuk arah,
ia selalu merasa ada jutaan tawa berlalu-lalang didekatnya tanpa ada satupun yang jadi miliknya.
Selalu begitu.
Hingga ia putuskan untuk tak lagi hidup dalam kehidupannya sendiri.
tak lagi hidup untuk dirinya sendiri,
tak lagi bermimpi dan berdoa untuk dirinya sendiri.
bukan lagi dirinya sendiri.
Sesuatu telah menariknya dalam ketakabadian abadi.
sesuatu yang begitu indah, menurutnya.
Dan kini tiap tawanya harus dialiri tangisan ketakberdayaan.
ketika ia akhirny sadar
bahwa dunia yang selama ini dia hidupi bukanlah dunianya.
tetapi apa yang bisa ia lakukan?
Bagaimana lagi ia bisa sembunyikan kelemahannya?
Ia tak lagi ingat dimana dunianya ia taruh.
dunia yang memang hanya tinggal separuh.
(23 Mei 2009)
**
09209. "Dream Dust"
Sepenggal hari menyelinap, mengecoh kesadaran
dengan mimpi yang tak mau pergi,
dan ketika tersadar dunia sudah hampir pagi.
Sepenggal hari melesak pelan tak terlacak,
sisakan desak tanpa berjejak,
hingga ia pun sadar tak lagi bijak.
Langit menawarkan sebongkah tawa untuk ia ambil,
dan ia tak berani meraih, gemetar seakan menggigil.
Ia tahu ia pemimpi yang terlalu mungil.
Bulu-bulu peraknya terbaring tanpa asa,
letih mengepak, sayapnya yang tiada itu melipat peluk punggungnya.
Mungkin ia bosan tak dapat terbang,
mungkin ia lelah tak bisa mengalah,
dan mungkin ia marah tak sempat menyerah !
Bongkahan petang yang penuh patahan arang itu
semestinya cukup cegah ia jatuh terlalu jauh.
Tetesan air mata tanpa arti itu seharusnya bisa cegah ia melayang dan lalu hilang.
Bahkan nyamuk pun terlelap, gerutunya.
Dan dunia telah mulai gelap, dipenuhi gemerlap harap.
Ia tahu, ini waktu yang tepat untuk menebar debu mimpi,
menandai dunia dengan jangkauan harapannya,
menyanjungi segala tanpa peduli semembosankan apapun hari ini,
dan lalu berharap agar ia mampu terlelap
tanpa ingat betapa ia telah lelah memejam.
(24 Mei 2009)
**
09210. "Waktunya Bekerja Sama, Kebenaran"
Malam bertutur nyaris berbisik
pada dedaunan yang gugur tanpa gemerisik.
Bintang-bintang, bulan, dan himpunan awan merangkak bingkai heningnya awal malam.
Seakan terbangun dari kesadarannya,
jiwa tanpa sayap itu tak lagi tenggelam kian dalam
di ranah hampir nyata yang bernama impian.
Malam ini tak seperti biasa,
tiada kesungguhan tuk gapai puncak dunia,
tiada keinginan dapatkan semua,
dan tiada lagi kebahagiaan yang biasa ia temukan ketika ia bersedih.
Ia sadar,
dunia adalah kenyataan,
dan apa yang nyata adalah kebenaran.
mimpi dan harapan pun takkan pernah senyata keadaan.
Ia pun bersegera,
lipat sayapnya, ambil ancangnya.
Dunia ada disana untuk ia menangkan.
(30 Mei 2009)
**
09211. "Still Ill"
Senyuman mungil di langit,
itu yang buat kabut bintang diatas dunia sedikit terurai.
Tawa bersemayam diatas kenyataan,
mimpi berutas keyakinan,
kesedihan beralaskan keterbatasan,
dan bahkan ketiadaan adalah nyanyian indah baginya.
Sehela kehangatan telah cukup lingkupi kosongnya dengan impian
yang seakan melahirkan dirinya sendiri tiap saat,
terabadikan dari kehilangan dan keputusasaan.
Dan inikah yg ia inginkan?
Entah, dunia tak pernah seberarti mimpi baginya.
Yang ia tahu, malam tercipta agar ia menjadi nyata.
Lalu realitas? ketidakmampuannya?
keterbatasannya?
naah.. hanya retakan kecil, pikirnya.
dan retakan kecil itu hanya hiasan.
(31 Mei 2009)
**
09212. "Cermin si Pengagum"
Debu mungil di sela helaian, begitu ia merasa.
Tak terlalu berandil penuh tentu
bahkan tak layak disebut kabut.
Bergelegak tak gemerlap,
berpendaran tak menerangi.
Dan ada frase sebanyak bintang yang dapat dipakai untuk membicarakannya.
ia, ia, ia.
siapakah "ia" ?
Selamanya, "ia" akan selalu menjadi orang ketiga tunggal dalam percakapan apapun : penggambaran sempurna atas kehidupannya,
itulah mengapa ia senang menyebut dirinya "ia".
ia tak (pernah) punya sayap,
selalu nyaman berlumur senyap,
bersinar dlm gelap,
benci apapun yang bergemerlap,
bahkan ia pun hidup, bernafas, dan bergerak.
ia bermimpi sesering kedipan matanya,
secepat itu pula melupakannya.
ia selalu punya pelarian,
tempat sembunyi dari keseharian.
ia selalu punya impian.
dan pilihan.
hingga tepat setelah sebuah detik yang tidak disadari berlalu
ia pun tersadar, ia kini tahu
hanya ada ia,,
dunia,
karunia,
dan sebuah kebencian segitiga.
(1 Juni 2009)
**
09213. "Ruang Tanpa Tempat Berpaling"
Kawan hari ini : ujung terik yang menghujam, angin pengap tanpa hujan
dan sisa rasa kantuk yg masih seranjang.
Seperti biasa, ia luar biasa.
Tak hanya memikirkan seluruh dunia ia pun memikirkan dirinya sendiri.
Ah,, andai ia malaikat,
andai ia bersayap,
dan andai ia semenarik mimpi-mimpinya...
Agar tidak bosan ia pun berdoa,
ia ingin selalu tahu mengapa ia selalu ingin tahu,
ia ingin bisa mengerti mengapa ia tak bisa mengerti,
dan ia ingin Tuhan mengubah cara dirinya mengubah orang lain.
..
Hari yg singkat.
Beberapa jiwa lelah tertawa,
beberapa lagi tercenung, merenung mendengung kidung bingung.
Sebuah jiwa menangis terbahak-bahak,
padahal tawanya penuh sedu.
belakangan memang ia selalu begitu,
menutup diri begitu dini, seperti jendela tak berpintu.
ia punya alasan. tapi ia tak punya penjelasan.
ia hanya ingin lelap dalam ketiadaan, dan ia tahu. tidak akan ada yang menganggap itu masuk akal.
(5 Juni 2009)
**
09214. "Serawa Tawa"
Malam ini terik,
gumpalan gelap berarak melambat, seperti umpati gelembung mimpi.
Angin yang hampir sejuk itu bersemilir,
memeluk jiwa-jiwa telentang yang bahkan belum berhenti berpikir.
Tapi, ya,, malam ini hangat.
(5 Juni 2009)
**
09215. "Titik lalu Koma"
Malam.
Masa mengenang kelam si tanpa nyali,
dan masa meredam geram, bagi sang tersakiti.
Sesaat sebelum memejam, tangan ringkih bergenggaman
seakan memuja keterkabulan, lisan letih itu eja-ejai harapan.
..
Nyaris bersayap sebuah jiwa menoleh
ah, dirinya sendiri !
Ayunan tua, pohon besar, dan kegelapan.
Tatapan mungil, binar berkaca, hidung sembab yang kesulitan menghela,
kepalan erat, serta ingatan yang berkarat.
Anak kecil itu tertunduk, mengayun maju-mundur.
Mengingatkan sang jiwa pada impiannya kala itu
yang mengalun seolah melacur.
Petir menyambar, koyaki timbunan berat di punggung langit.
Anak itu tersenyum.
Dan anak itu pun menyesal. menatap lumuran gelap di tanganny seakan masih bisa diajak bicara.
...
Ah, ia mual. jiwa tak bersayap itu ingin muntah.
ia benci bercermin. dan ia benci masa lalu.
(7 Juni 2009)
**
09216. "The Happiness He Dreamt Of"
Hal kecil.
Tak perlu seisi dunia agar ia bahagia.
Tawa mungil.
Hanya butuhkan selimut kecil agar ia berhenti menggigil.
Berdebu.
Realitanya tanpa elu yang menggebu.
Melata.
Nyaris tak berjiwa, ia menundukkan kepala.
Menatap hina pada citanya yang tak hingga.
Menyata.
Mimpinya dahului semua cerita.
Dan seolah tanpa belas, dekapi kebahagiaan agar tak mau pergi.
Menyata.
Tawa ringkih itu menghilang, lalu jadi nyata,
(8 Juni 2009)
**
09217. "Angels Talk, Walk, Spark, and Cry"
Ujung sayap.
Tajam.
Menjentik lentik bagaikan udara.
Mengiris miris bagaikan kenyataan.
Dan memeluk seakan menemani, dalam keterenggutan nyawa.
ia merasakan keterbatasannya,
keterhinggaannya.
bhw mungkin ia bukan seorangpun yang dibanggakan dunia
Dan itu membuatny nyaman bergantung pada apapun.
serapuh apapun itu.
sejauh apapun itu.
se-tak-masuk-akal apapun itu.
se-tak-indah apapun itu.
..
Peluh. Keluh. Elu. Semua menyatu pilu.
Tak ingin koyak ketegaran, tapi hati seakan dihujam kebenaran,
menangis satu malam.
dari desakan yg membuncah itu.
Dan dari ledakan-ledakan kecil dikepalanya
(9 Juni 2009)
**
09218. "Ia Bermimpi Ia Hidup"
Terhenyak.
Ingin berhenti. Lalu nyenyak.
Tapi tanpa henti, meski dua jenak.
Malam berpaling mengaburkan kedatangan sang pagi,
seakan tak peduli, ia putuskan mulai bermimpi.
Mimpi yang sama,
yang telah jadi kehidupannya,
yang telah jalari jiwanya,
aliri darahnya,
jadi pengganti bagi udara
yang ia rasa terlalu nyata, dan menyesakkan.
..
Tak ada.
Segala terbungkus noda, menyamarkan senyum yang sempat ada.
Kehilangan sesuatu, maka jiwa mencarinya,
segera ia terpaku, karena yang hilang adalah dirinya.
Menengadah, ia cari potongan rasi.
Terperangah, lalu berlari seperti hendak dihabisi.
Yang menatapny dari lautan bintang adalah ketidakpastian,
ketidakabadian, kefanaan,
dan kebenaran yang berlebihan.
Jiwa itu kabur,
melesat menghujam lumpur,
menggila dikuasai umur,
meronta diikat keterbatasan,
dan merintih hingga ringkih, hidupnya tak lagi miliknya,
tak lagi untuknya,
tiada lagi bentuknya.
Hidupnya kini pelarian menyelamatkan bintang-bintang yang kehilangan sebutir cahayanya,
hidupnya kini pengorbanan membahagiakan malaikat-malaikat yang kelelahan tertawa,
dan hidupnya adalah untuk satu tempat di surga, meski mungkin bukan baginya.
ia menyesal telah memijak awan,
membuatnya merasa tinggi tapi ia tak bisa lagi berlari.
ia akan menyesal telah awali sebuah akhir,
ia akan menyesal tak sempat perbaiki dunia,
dan ia akan menyesal, tak pernah hidup dalam kehidupannya sendiri.
Kelelahan, ia menepi.
sayap yang sepasang tak akan meneduhinya, ia tahu itu.
tapi bahkan ia tak punya satupun.
Dan segera, deru kelu kenyataan dari lautan bintang menerpanya !
menenggelamkannya !
hingga iapun tersadar, ia tak hidup dalam masa lalu
tapi ia bermimpi ! karena ia sang pemimpi, pengagum nurani yang hampir saja mati.
ia bermimpi, dalam masa lalu
larikan diri dari masa kini.
buang-buangi waktu, andai-andaikan sebuah masa yang mungkin datang.
(10 Juni 2009)
**
09219. "Lelah Berpuisi"
Biasanya, jiwa itu bernyanyi ketika dipeluk malam terlalu erat,
jauh dari hangat, terlumur gelap pekat.
Biasanya, tawa itu berbaris meniti rintikan garam penuh emosi,
peluh penuh keluh, bercampur gemuruh yang pura-pura gaduh.
Biasanya, berbait makna mengalir bagai petir tiap ada patahan kegelisahan yang tertahan.
Biasanya.
Dan biasanya, ia bingung menulis asanya.
Ketika mungkin,
sehimpun gemilau telah membias menjadi sebuah senyuman,
yang mengembun menyejukkan,
meski ya, tipis bagai harapan.
(10 Juni 2009)
**
09220. "Nafas Panjang"
Tam tararam.
Bintang-bintang menggelembung, menggemaskan !
Angin berhembus enggan, elus pelan indera kebahagiaan sang jiwa tak bersayap.
Tarararam
lompatan-lompatan mungil berkilauan di hamparan angkasa,
ukiri doa, butiran impian kaya makna.
Tarian, tarian, tarian.
Hembusan nafas panjang itu menghangatkan, meski sedetik saja.
Mimpi-mimpi meretas, jiwa-jiwa melekas telah mulai menggagas.
Harapan-harapan itu
bergegas menetas !
(15 Juni 2009)
**
09221. "Berangan Diujung Awan"
Hari ini sepertinya malam berlalu lebih pesat dari biasa,
mungkin sedang tergesa
iringi berpulangnya sang hari
yang penat dan nyaris mati rasa.
Sebuah jiwa yang kelelahan baru saja terbangun dari kenyataan
tepat ketika patahan-patahan awan mulai berjatuhan
terurai bertabur gelap, sang jiwa pun terkulai berselimut lelap.
Ah, bulan buncit
Seakan tertelan kenyataan, bintang-bintang mulai enggan memperindah dunia,
hanya ada langit kelam, mendung tebal, dan angin kesal
Jiwa bebal itu pun merenung diujung awan
mengandaikan lumuran angan yang telah selalu menenggelamkannya dalam kenyamanan,
memanggil-manggil masa lalu yang tak mungkin menoleh lagi,
dan mengharapkan kemustahilan yang tiba-tiba jadi nyata.
Ditemani kilauan sayu bulan buncit diatas genangan,
nanarnya bergemilauan hampir terang
bergemerlapan hendak layu, sulit melepas kenangan.
Dibayangi derap cepat kehidupan yang terlalu sering menuntut segalanya,
nyanyian cita yang terlalu cepat usang,
dan pijakan landai yang serapuh sebuah andai,
memarnya berdenyut memberinya kehidupan:
karena ia bernafas dengan lukanya,
dan akan segera mati begitu semua orang bahagia
Bagaimanapun
ia masihlah pengagum segala yang selalu enggan tertawa
penyampai cerita yang terlalu mudah terbawa
peranum derita yang tak pernah letih bersandiwara
dan jiwa tanpa daya yang belum bosan bermimpi :
berangan hingga tenggelam, diujung langit sana
maka jangan lelah menemaninya
berandai, bercerita
dan berbagi sepotong senyap.
Mungkin kelak
ia dapat tersungkur
jauh lebih damai
nyenyak,
dan akhirnya bersayap.
(23 Juni 2009)
**
