Sabtu, 17 April 2010

Pagi yang Bercerita

'Pagi menyempurna seiring emas langit perlahan disingkapi kilauannya.'



Sebuah pagi mungkin tak lebih dari sekedar momen yang mengawali dan masa bersiap menyambut hari, atau bagi beberapa orang, menit-menit ketika bantal dan selimut entah mengapa terasa begitu lembut dan menyamankan.

Sebuah pagi memang hanya sebuah pagi. Tak ada yang perlu diceritakan lagi mengenai sebuah pagi karena ia sendiri bercerita melalui dunia, yang memaparkan keajaiban seiring pagi menyempurna bersama kenaikan perlahan sang surya yang menyingkap dari kegelapan, ukiran-ukiran indah milik Sang Pencipta dan Pemelihara, di bumi yang kehangatan pagi menghampar diatasnya.

Pagi bercerita dalam bahasa alam semesta yang gemanya meluas ke separuh bumi, yaitu bahwa gelap tak akan menetap selamanya dan terang tak akan hengkang lama-lama. Pagi akan selalu menjadi kabar gembira bagi mereka yang memuji Tuhannya, karena datangnya sebuah pagi berarti masih diberinya mereka kesempatan untuk mengucap syukur dapat kembali melihat cahaya dan ini artinya mereka masih diberi keleluasaan untuk memperbaiki diri. Sapaan sebuah pagi adalah salam hangat bagi mereka yang mengingat Tuhannya, karena pagi membawa pesan amat jelas bahwa kekuasaanNya mutlak melebihi dalamnya rasa takut manusia akan tiadanya esok hari, dengan mengatakan kepada mereka yang memperhatikan, "bangun dan bersyukurlah, engkau khawatir tidak akan dapat bangun dari lelapmu tetapi kini Tuhanmu telah menyalakan lentera cahaya sekali lagi agar kau punya kesempatan melanjutkan perjalananmu ke kebenaran, maka bersiaplah dan jangan menjauh dari cahayaNya atau kau mungkin akan tergelincir ke dalam kubangan dosa, yang setan samarkan dalam sisa-sisa kegelapan". Ya, pagi mengabarkan Kemahapemurahan Allah, sifat MahaKasih dan MahaLembut-Nya terrefleksi dalam tiap kesejukan yang menyertai pagi menyapa bumi.

Dengan kata-kata yang sedikit berbeda, pagi memaparkan kenyataan lain yang seharusnya menghentak tiap pikiran yang berkesadaran. Jika seseorang menemui pagi, selain ia mutlak harus bersyukur hendaknya ia juga menjadi lebih awas, yaitu bahwa sebuah pagi di usianya telah berlalu, maka makin dekatlah ia menuju pagi terakhirnya. Perhatikan, betapa terlibatnya kebijaksanaan agung Tuhan dalam segala sesuatu. Mewujud dalam pagi, kasih sayangNya mengajak manusia bersyukur, menyirami manusia dengan beberapa bagian dari ketakterhinggaan rahmat; dan pada saat yang bersamaan, kasih sayangNya mengajak manusia merenungi keterbatasannya, menyentuh pribadi-pribadi bercahaya yang tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa pagi ini bisa saja pagi terakhirnya, dalam berbuat dan berpemikiran sehingga ia tidak menyimpang dari jalan terang yang ditunjukkan Tuhannya dan tidaklah ia tergelincir ke dalam perangkap iblis yang hanya disamarkan kegelapan tipis.


Pagi adalah cahaya, yang menghangatkan dan menerangi. Bersyukurlah sebelum dinginnya malam membuatmu menggigil dan menggerutu; lalu perhatikan dan ikutilah jalan yang lurus dari Tuhanmu dan jangan menyimpang, karena gelap dapat datang kapan saja tanpa menyempatkanmu kembali ke jalan yang benar, padahal perangkap bertebaran dihadapanmu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar