Jumat, 14 Mei 2010

Lelehan.

Kawan pagi, tepat sepertinya jika impian diumpamakan sebagai lawan dari kenyataan.

Meski banyak cerita mengenai impian yang terwujud, para pengharap yang dihadiahi keterkabulan dan jiwa-jiwa beruntung yang realitanya kebahagiaan, tetap saja bagi Pagi, impian dan kenyataan tidak pernah bisa didamaikan. Mungkin keduanya adalah seperti terang dan gelap; meski memang, perlu dipikirkan manakah yang terang dan mana yang sebenarnya gelap.


Tanpa memancing dikotomisasi idealis-realis terhadap Pagi dan pemimpi-pemimpi serupa yang sejujurnya telah sering merasa dikecewakan (dalam pemahaman pribadi) oleh yang namanya kenyataan, Pagi sekedar ingin meyakinkan diri sendiri bahwa keinginan, harapan, impian, dan cita bukanlah peti berisi mahkota melainkan peta menuju Kotak Harta.

Poin pertama disini mungkin dapat dibuat lebih jelas dengan analogi berikut. Misalkan ketika seorang anak menginginkan sesuatu, mungkin mainan, lalu berusaha mendapatkannya dengan merengek dan meminta kepada orang tuanya. Mungkin ia diberi, mungkin juga tidak. Tergantung pada kebijaksanaan sang orang tua. Jika ia diberi, sang orang tua akan mengharapkan suatu 'perkembangan' dalam diri si kecil setelah menyenangkannya tadi; entah itu perbaikan tingkah laku, sopan santun, atau yaa sekedar mengeratkan nuansa kasih sayang dengan si anak. Jika ia tidak diberi, si kecil tentu akan kesal, mungkin marah, atau bahkan mengamuk. Tetapi ia belajar banyak hal dan kebijaksanaan, diantaranya yaitu bahwa keinginan tidak selamanya dapat segera jadi nyata, atau bahwa 'usaha'nya masih perlu diperbaiki, mungkin dengan mencoba menampilkan pencapaian (dengan belajar dan berprestasi, misalnya) agar kelak sang orang tua dapat lebih tergugah untuk memberi apa yang diinginkannya. :)

Poin kedua baiknya dikaitkan dengan analogi barusan. Dari segi pemahamannya terhadap kehidupan, mungkin cocok jika manusia diposisikan sebagai anak kecil. Manusia berkeinginan, punya impian dan menyusun cita-cita meski ternyata toh hanya sebernilai mainan. Kemudian ia berusaha mendapatkan apa yang diinginkannya tersebut biarpun sejatinya 'usaha'nya itu hanyalah rengekan dan pintaan terhadap Sang Pencipta. Pada akhirnya, keputusan berada mutlak pada kekuasaan Tuhan. Hal yang mungkin sulit dipahami oleh si 'anak kecil manusia' adalah mengenai esensi dan konsekuensi terkehendakinya keputusan tersebut. Sisanya dapat ditafsirkan serupa sebagaimana disebutkan dalam analogi itu.

..


Setelah jelas bahwa terwujudnya impian bukanlah hak yang sebenarnya patut dituntut oleh manusia, ia semakin mengontraskan diri dengan kenyataan, yang seperti arus tak terbendung menerjang semua dirian harapan yang bernyali menyuarakan tantangan dan kebebasan bermimpi. Pada akhirnya toh kenyataan berperan sebagai 'pendidik' bagi spiritualitas anak kecil manusia yang impiannya dikendarai kebahagiaan egosentrisnya.

Well, dalam pemahaman ini mungkin asersi Pagi di awal tadi menjadi terasa terlalu ekstrim sehingga mungkin yang lebih tepat adalah bahwa impian merupakan lawan main kenyataan dalam drama ujian berdurasi usia satu jiwa : kehidupan. Waktu ujian akan segera habis dan Allah, dengan sifat mahapengasihNya, membantu kita menyiapkan 'jawaban yang benar' dengan mengilhamkan impian agar kita tergugah merenungi kekuasaan nyataNya, Sang Pengalir Kenyataan, sembari mengasihi kita dengan berkah tak hinggaNya melalui pelajaran kebijaksanaan agung dan keajaiban tak terduga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar