Halo kawan pagi, masih dalam semangat 'menyala hangat lagi', kali ini Pagi akan mengulas sebuah sajak pribadi yang Pagi susun belum lama ini dan dimuat dalam postingan sebelumnya. Mungkin terasa narsistik dan seegois penulisan otobiografi, tetapi Pagi hanya berniat mempelajari dan memanfaatkan tiap inspirasi, yang menurut Pagi berharga.
Berikut puisi yang dimaksud,
Derita pun Candai Penyerita
Andai.
Mungkin aku keberadaan
menyedihkan
mungkin aku pembicaraan
meletihkan,
dan mungkin aku awan tak
terwarnai
butir pasir tak termaknai.
Aku penyaksi laju waktu
penyaji diksi batu,
dan aku pendiam penyenang nanti
pengenang tenggelam mati.
Haruskah aku ada
dan adakah aku harus?
Mengapa aku ada
dan adakah aku mengapa?
Indahkah keakuan
dan akukah keindahan?
Bodohkah pengakuan
dan akukah pembodohan?
Mestikah penuh makna,
dan bermaknakah sebuah mesti?
Aku juara buang waktu
pemimpin gerakan diam saja,
karena toh suaraku oleh uang dibuat
buntu
dipelintir seakan berdeham saja.
Meski kini kuasaku hanya di puncak
lembahku
dan asaku hanya sampai di pundak
sembahku,
alam semesta kemalanganku
akan dipestai kematanganku.
Setidaknya begitu kata andaiku.
**
(Ankara, 18 Mei 2010)
Langsung saja, secara keseluruhan puisi ini menggambarkan kondisi kejiwaan Pagi saat penulisan.
Dalam bait pertama, ditekankan perasaan mengenai tidak signifikan dan tidak berharganya keberadaan Pagi, dalam konteks langit luas peradaban maupun gunungan pasir manusia.
Dalam bait kedua, kemungilan Pagi tampil dalam bentuk berbeda. Pagi berperan sebagai "penyaksi laju waktu", pihak yang berposisi sebagai penonton dan apresiator dari rentetan kejadian di dunia; untuk kemudian muncul sebagai "penyaji diksi batu", mengkritisi masalah-masalah dengan setengah hati yang kemudian dianggap seperti lemparan batu sambil lalu. Sebagai pendiam, Pagi juga sadar telah sering menunda kesempatan dan lebih cenderung memerangkap diri di masa lalu.
Bait ketiga mengilustrasikan konflik internal batiniah yang terjadi ketika Pagi merenungi makna keberadaan Pagi sendiri, mempertimbangkan kedua bait sebelumnya dan menyentuh-nyentuh luka keakuan yang melekat erat pada kepribadian Pagi, serta mempertanyakan nilai sebuah kejujuran dan peran apakah yang sebenarnya telah selama ini Pagi jalani, dalam klausa "bodohkah pengakuan dan akukah pembodohan?"
Bait keempat menghentikan gejolak batin tersebut sejenak dan mempertanyakan pentingnya dan kemestian mencari tahu makna tersebut. Kemestian itu sendiri pun kemudian dipertanyakan keberhargaan dan kebermaknaannya.
Melalui beberapa ironi dalam bait kelima, Pagi mulai berkontemplasi mengenai insignifikansinya, dan membuat sedikit apologi dengan menyalahkan tidak kondusifnya keadaan dan keberadaan pihak yang menekan aksi dan teriakannya melalui segala cara.
Bait keenam kemudian menyimbolkan telah disiapkannya telaga ancaman Pagi, yang siap meluber, menumpahi dan menenggelamkan semua penentang begitu waktunya tiba, serta bahwa kelak ia akan kembali ke atas angin dan menemukan posisinya dalam pesta makna dunia.
Sajak pun ditutup dengan sekalimat resolusi antiklimaktis, yaitu bahwa ancaman dan prediksi yang digadang-gadang di bait keenam pun hanyalah produk pengandaian Pagi. Dengan cara ini Pagi menegaskan bahwa optimismenya hanyalah rencana, dan pada akhirnya Tuhan lah penentu yang Maha Berkuasa memutuskan terjadinya. Bagaimanapun, harapan masih berharga, sebagaimana tercermin dalam pemilihan kata 'setidaknya' dibandingkan 'namun' atau 'tetap saja'. Pagi ingin berbagi optimisme ini kepada pembaca sajaknya. :)
..
Demikianlah, melalui ulasan singkat dari secuil sajak sederhana ini Pagi berharap dapat menyumbang kesegaran kedalam pemikiran kawan-kawan. Dengan memakai diri sebagai cermin perefleksi, semoga ajakan kebaikan dan kebijaksanaan dapat terpancar jauh lebih dalam, serta tersampaikan dengan lebih mengena. ;)
Rabu, 19 Mei 2010
Bedah Sajak, "Derita pun Candai Penyerita Andai"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar