maaf, terpaksa menunda pembahasan puisi.
This time I need to shout!! To shout without anybody hearing!! To shout without anybody noticing!! To shout myself out with nobody knowing, and finally the blow shall be swallowed by abrupt silence. Awkwardness bearing my name, unluck tainting my fate, shame shading on me, and everything terrible got pin down at me.
This may not be the first time I wish that I were not myself, that this destiny were not mine, nor anyone's. This may not be the first time I turn unthankfully berserk.
Pity on me.
Minggu, 13 Juni 2010
Selasa, 08 Juni 2010
Perpetuasi
Pagi dunia! Well, sebenarnya sedang sore di belahan dunia sini, tetapi bagi Pagi sih selalu pagi hari didalam hati.. :malu:
Besok siang Pagi akan menghadapi UAS matematika diskrit dan seperti biasa, inspirasi justru datang pada saat-saat krusial seperti ini. This reminds me of an analogy that the greater the pressure the greater the pleasure.. Eh salah, :hammer: ini maksud Pagi, the greater the pressure the greater the blow. Puisi dadakan ini dinamai "Bubuk Akan" untuk suatu alasan yang lumayan pelik, i shall explain this later on. For now, enjoy.
Seperti biasa, penjelasan akan menyusul di postingan selanjutnya, insya Allah.
Bubuk Akan
Sepatah sebaran retakan
serapuh remukan reruntuhan,
kesadaran di segenggam urat nista
berkejaran dengan hasrat setipis semesta.
Belum semalam sejak lunglaiku temukan damai
dalam renung yang sedalam sajak pelalai, lalu berlekas mengelupas.
Semenyedihkan tawa terpaksa
dan seperih didihan rawa raksa,
keajaiban itu menggantung di titian tinggi :
seperti maki rupaku yang berkaki terpaku.
Menengadah, pandanganku jangkaui udara kosong
merasa tak berhati
berpunya asa tetapi mati,
dan seperti orang bodoh bertelepati :
lontar terus bahasa sampai ada yang mengerti.
Mantra taburan bubuk akanku.
**
(Ankara, 08 Juni 2009)
Besok siang Pagi akan menghadapi UAS matematika diskrit dan seperti biasa, inspirasi justru datang pada saat-saat krusial seperti ini. This reminds me of an analogy that the greater the pressure the greater the pleasure.. Eh salah, :hammer: ini maksud Pagi, the greater the pressure the greater the blow. Puisi dadakan ini dinamai "Bubuk Akan" untuk suatu alasan yang lumayan pelik, i shall explain this later on. For now, enjoy.
Seperti biasa, penjelasan akan menyusul di postingan selanjutnya, insya Allah.
Bubuk Akan
Sepatah sebaran retakan
serapuh remukan reruntuhan,
kesadaran di segenggam urat nista
berkejaran dengan hasrat setipis semesta.
Belum semalam sejak lunglaiku temukan damai
dalam renung yang sedalam sajak pelalai, lalu berlekas mengelupas.
Semenyedihkan tawa terpaksa
dan seperih didihan rawa raksa,
keajaiban itu menggantung di titian tinggi :
seperti maki rupaku yang berkaki terpaku.
Menengadah, pandanganku jangkaui udara kosong
merasa tak berhati
berpunya asa tetapi mati,
dan seperti orang bodoh bertelepati :
lontar terus bahasa sampai ada yang mengerti.
Mantra taburan bubuk akanku.
**
(Ankara, 08 Juni 2009)
Rabu, 19 Mei 2010
Bedah Sajak, "Derita pun Candai Penyerita Andai"
Halo kawan pagi, masih dalam semangat 'menyala hangat lagi', kali ini Pagi akan mengulas sebuah sajak pribadi yang Pagi susun belum lama ini dan dimuat dalam postingan sebelumnya. Mungkin terasa narsistik dan seegois penulisan otobiografi, tetapi Pagi hanya berniat mempelajari dan memanfaatkan tiap inspirasi, yang menurut Pagi berharga.
Berikut puisi yang dimaksud,
Derita pun Candai Penyerita
Andai.
Mungkin aku keberadaan
menyedihkan
mungkin aku pembicaraan
meletihkan,
dan mungkin aku awan tak
terwarnai
butir pasir tak termaknai.
Aku penyaksi laju waktu
penyaji diksi batu,
dan aku pendiam penyenang nanti
pengenang tenggelam mati.
Haruskah aku ada
dan adakah aku harus?
Mengapa aku ada
dan adakah aku mengapa?
Indahkah keakuan
dan akukah keindahan?
Bodohkah pengakuan
dan akukah pembodohan?
Mestikah penuh makna,
dan bermaknakah sebuah mesti?
Aku juara buang waktu
pemimpin gerakan diam saja,
karena toh suaraku oleh uang dibuat
buntu
dipelintir seakan berdeham saja.
Meski kini kuasaku hanya di puncak
lembahku
dan asaku hanya sampai di pundak
sembahku,
alam semesta kemalanganku
akan dipestai kematanganku.
Setidaknya begitu kata andaiku.
**
(Ankara, 18 Mei 2010)
Langsung saja, secara keseluruhan puisi ini menggambarkan kondisi kejiwaan Pagi saat penulisan.
Dalam bait pertama, ditekankan perasaan mengenai tidak signifikan dan tidak berharganya keberadaan Pagi, dalam konteks langit luas peradaban maupun gunungan pasir manusia.
Dalam bait kedua, kemungilan Pagi tampil dalam bentuk berbeda. Pagi berperan sebagai "penyaksi laju waktu", pihak yang berposisi sebagai penonton dan apresiator dari rentetan kejadian di dunia; untuk kemudian muncul sebagai "penyaji diksi batu", mengkritisi masalah-masalah dengan setengah hati yang kemudian dianggap seperti lemparan batu sambil lalu. Sebagai pendiam, Pagi juga sadar telah sering menunda kesempatan dan lebih cenderung memerangkap diri di masa lalu.
Bait ketiga mengilustrasikan konflik internal batiniah yang terjadi ketika Pagi merenungi makna keberadaan Pagi sendiri, mempertimbangkan kedua bait sebelumnya dan menyentuh-nyentuh luka keakuan yang melekat erat pada kepribadian Pagi, serta mempertanyakan nilai sebuah kejujuran dan peran apakah yang sebenarnya telah selama ini Pagi jalani, dalam klausa "bodohkah pengakuan dan akukah pembodohan?"
Bait keempat menghentikan gejolak batin tersebut sejenak dan mempertanyakan pentingnya dan kemestian mencari tahu makna tersebut. Kemestian itu sendiri pun kemudian dipertanyakan keberhargaan dan kebermaknaannya.
Melalui beberapa ironi dalam bait kelima, Pagi mulai berkontemplasi mengenai insignifikansinya, dan membuat sedikit apologi dengan menyalahkan tidak kondusifnya keadaan dan keberadaan pihak yang menekan aksi dan teriakannya melalui segala cara.
Bait keenam kemudian menyimbolkan telah disiapkannya telaga ancaman Pagi, yang siap meluber, menumpahi dan menenggelamkan semua penentang begitu waktunya tiba, serta bahwa kelak ia akan kembali ke atas angin dan menemukan posisinya dalam pesta makna dunia.
Sajak pun ditutup dengan sekalimat resolusi antiklimaktis, yaitu bahwa ancaman dan prediksi yang digadang-gadang di bait keenam pun hanyalah produk pengandaian Pagi. Dengan cara ini Pagi menegaskan bahwa optimismenya hanyalah rencana, dan pada akhirnya Tuhan lah penentu yang Maha Berkuasa memutuskan terjadinya. Bagaimanapun, harapan masih berharga, sebagaimana tercermin dalam pemilihan kata 'setidaknya' dibandingkan 'namun' atau 'tetap saja'. Pagi ingin berbagi optimisme ini kepada pembaca sajaknya. :)
..
Demikianlah, melalui ulasan singkat dari secuil sajak sederhana ini Pagi berharap dapat menyumbang kesegaran kedalam pemikiran kawan-kawan. Dengan memakai diri sebagai cermin perefleksi, semoga ajakan kebaikan dan kebijaksanaan dapat terpancar jauh lebih dalam, serta tersampaikan dengan lebih mengena. ;)
Berikut puisi yang dimaksud,
Derita pun Candai Penyerita
Andai.
Mungkin aku keberadaan
menyedihkan
mungkin aku pembicaraan
meletihkan,
dan mungkin aku awan tak
terwarnai
butir pasir tak termaknai.
Aku penyaksi laju waktu
penyaji diksi batu,
dan aku pendiam penyenang nanti
pengenang tenggelam mati.
Haruskah aku ada
dan adakah aku harus?
Mengapa aku ada
dan adakah aku mengapa?
Indahkah keakuan
dan akukah keindahan?
Bodohkah pengakuan
dan akukah pembodohan?
Mestikah penuh makna,
dan bermaknakah sebuah mesti?
Aku juara buang waktu
pemimpin gerakan diam saja,
karena toh suaraku oleh uang dibuat
buntu
dipelintir seakan berdeham saja.
Meski kini kuasaku hanya di puncak
lembahku
dan asaku hanya sampai di pundak
sembahku,
alam semesta kemalanganku
akan dipestai kematanganku.
Setidaknya begitu kata andaiku.
**
(Ankara, 18 Mei 2010)
Langsung saja, secara keseluruhan puisi ini menggambarkan kondisi kejiwaan Pagi saat penulisan.
Dalam bait pertama, ditekankan perasaan mengenai tidak signifikan dan tidak berharganya keberadaan Pagi, dalam konteks langit luas peradaban maupun gunungan pasir manusia.
Dalam bait kedua, kemungilan Pagi tampil dalam bentuk berbeda. Pagi berperan sebagai "penyaksi laju waktu", pihak yang berposisi sebagai penonton dan apresiator dari rentetan kejadian di dunia; untuk kemudian muncul sebagai "penyaji diksi batu", mengkritisi masalah-masalah dengan setengah hati yang kemudian dianggap seperti lemparan batu sambil lalu. Sebagai pendiam, Pagi juga sadar telah sering menunda kesempatan dan lebih cenderung memerangkap diri di masa lalu.
Bait ketiga mengilustrasikan konflik internal batiniah yang terjadi ketika Pagi merenungi makna keberadaan Pagi sendiri, mempertimbangkan kedua bait sebelumnya dan menyentuh-nyentuh luka keakuan yang melekat erat pada kepribadian Pagi, serta mempertanyakan nilai sebuah kejujuran dan peran apakah yang sebenarnya telah selama ini Pagi jalani, dalam klausa "bodohkah pengakuan dan akukah pembodohan?"
Bait keempat menghentikan gejolak batin tersebut sejenak dan mempertanyakan pentingnya dan kemestian mencari tahu makna tersebut. Kemestian itu sendiri pun kemudian dipertanyakan keberhargaan dan kebermaknaannya.
Melalui beberapa ironi dalam bait kelima, Pagi mulai berkontemplasi mengenai insignifikansinya, dan membuat sedikit apologi dengan menyalahkan tidak kondusifnya keadaan dan keberadaan pihak yang menekan aksi dan teriakannya melalui segala cara.
Bait keenam kemudian menyimbolkan telah disiapkannya telaga ancaman Pagi, yang siap meluber, menumpahi dan menenggelamkan semua penentang begitu waktunya tiba, serta bahwa kelak ia akan kembali ke atas angin dan menemukan posisinya dalam pesta makna dunia.
Sajak pun ditutup dengan sekalimat resolusi antiklimaktis, yaitu bahwa ancaman dan prediksi yang digadang-gadang di bait keenam pun hanyalah produk pengandaian Pagi. Dengan cara ini Pagi menegaskan bahwa optimismenya hanyalah rencana, dan pada akhirnya Tuhan lah penentu yang Maha Berkuasa memutuskan terjadinya. Bagaimanapun, harapan masih berharga, sebagaimana tercermin dalam pemilihan kata 'setidaknya' dibandingkan 'namun' atau 'tetap saja'. Pagi ingin berbagi optimisme ini kepada pembaca sajaknya. :)
..
Demikianlah, melalui ulasan singkat dari secuil sajak sederhana ini Pagi berharap dapat menyumbang kesegaran kedalam pemikiran kawan-kawan. Dengan memakai diri sebagai cermin perefleksi, semoga ajakan kebaikan dan kebijaksanaan dapat terpancar jauh lebih dalam, serta tersampaikan dengan lebih mengena. ;)
Senin, 17 Mei 2010
Menyala Hangat Lagi
Pagi dunia! Awal hari benar-benar sumber inspirasi, berikut bongkahan bait yang Pagi resapi beberapa menit lalu. Ada beberapa pelajaran didalamnya, insya Allah akan Pagi kupasi satu per satu. For now on, enjoy.
Derita pun Candai Penyerita Andai.
Mungkin aku keberadaan menyedihkan
mungkin aku pembicaraan meletihkan,
dan mungkin aku awan tak terwarnai
butir pasir tak termaknai.
Aku penyaksi laju waktu
penyaji diksi batu,
dan aku pendiam penyenang nanti
pengenang tenggelam mati.
Haruskah aku ada
dan adakah aku harus?
Mengapa aku ada
dan adakah aku mengapa?
Indahkah keakuan
dan akukah keindahan?
Bodohkah pengakuan
dan akukah pembodohan?
Mestikah penuh makna,
dan bermaknakah sebuah mesti?
Aku juara buang waktu
pemimpin gerakan diam saja,
karena toh suaraku oleh uang dibuat buntu
dipelintir seakan berdeham saja.
Meski kini kuasaku hanya di puncak lembahku
dan asaku hanya sampai di pundak sembahku,
alam semesta kemalanganku
akan dipestai kematanganku.
Setidaknya begitu kata andaiku.
**
(Ankara, 18 Mei 2010)
Derita pun Candai Penyerita Andai.
Mungkin aku keberadaan menyedihkan
mungkin aku pembicaraan meletihkan,
dan mungkin aku awan tak terwarnai
butir pasir tak termaknai.
Aku penyaksi laju waktu
penyaji diksi batu,
dan aku pendiam penyenang nanti
pengenang tenggelam mati.
Haruskah aku ada
dan adakah aku harus?
Mengapa aku ada
dan adakah aku mengapa?
Indahkah keakuan
dan akukah keindahan?
Bodohkah pengakuan
dan akukah pembodohan?
Mestikah penuh makna,
dan bermaknakah sebuah mesti?
Aku juara buang waktu
pemimpin gerakan diam saja,
karena toh suaraku oleh uang dibuat buntu
dipelintir seakan berdeham saja.
Meski kini kuasaku hanya di puncak lembahku
dan asaku hanya sampai di pundak sembahku,
alam semesta kemalanganku
akan dipestai kematanganku.
Setidaknya begitu kata andaiku.
**
(Ankara, 18 Mei 2010)
Jumat, 14 Mei 2010
Lelehan.
Kawan pagi, tepat sepertinya jika impian diumpamakan sebagai lawan dari kenyataan.
Meski banyak cerita mengenai impian yang terwujud, para pengharap yang dihadiahi keterkabulan dan jiwa-jiwa beruntung yang realitanya kebahagiaan, tetap saja bagi Pagi, impian dan kenyataan tidak pernah bisa didamaikan. Mungkin keduanya adalah seperti terang dan gelap; meski memang, perlu dipikirkan manakah yang terang dan mana yang sebenarnya gelap.
Tanpa memancing dikotomisasi idealis-realis terhadap Pagi dan pemimpi-pemimpi serupa yang sejujurnya telah sering merasa dikecewakan (dalam pemahaman pribadi) oleh yang namanya kenyataan, Pagi sekedar ingin meyakinkan diri sendiri bahwa keinginan, harapan, impian, dan cita bukanlah peti berisi mahkota melainkan peta menuju Kotak Harta.
Poin pertama disini mungkin dapat dibuat lebih jelas dengan analogi berikut. Misalkan ketika seorang anak menginginkan sesuatu, mungkin mainan, lalu berusaha mendapatkannya dengan merengek dan meminta kepada orang tuanya. Mungkin ia diberi, mungkin juga tidak. Tergantung pada kebijaksanaan sang orang tua. Jika ia diberi, sang orang tua akan mengharapkan suatu 'perkembangan' dalam diri si kecil setelah menyenangkannya tadi; entah itu perbaikan tingkah laku, sopan santun, atau yaa sekedar mengeratkan nuansa kasih sayang dengan si anak. Jika ia tidak diberi, si kecil tentu akan kesal, mungkin marah, atau bahkan mengamuk. Tetapi ia belajar banyak hal dan kebijaksanaan, diantaranya yaitu bahwa keinginan tidak selamanya dapat segera jadi nyata, atau bahwa 'usaha'nya masih perlu diperbaiki, mungkin dengan mencoba menampilkan pencapaian (dengan belajar dan berprestasi, misalnya) agar kelak sang orang tua dapat lebih tergugah untuk memberi apa yang diinginkannya. :)
Poin kedua baiknya dikaitkan dengan analogi barusan. Dari segi pemahamannya terhadap kehidupan, mungkin cocok jika manusia diposisikan sebagai anak kecil. Manusia berkeinginan, punya impian dan menyusun cita-cita meski ternyata toh hanya sebernilai mainan. Kemudian ia berusaha mendapatkan apa yang diinginkannya tersebut biarpun sejatinya 'usaha'nya itu hanyalah rengekan dan pintaan terhadap Sang Pencipta. Pada akhirnya, keputusan berada mutlak pada kekuasaan Tuhan. Hal yang mungkin sulit dipahami oleh si 'anak kecil manusia' adalah mengenai esensi dan konsekuensi terkehendakinya keputusan tersebut. Sisanya dapat ditafsirkan serupa sebagaimana disebutkan dalam analogi itu.
..
Setelah jelas bahwa terwujudnya impian bukanlah hak yang sebenarnya patut dituntut oleh manusia, ia semakin mengontraskan diri dengan kenyataan, yang seperti arus tak terbendung menerjang semua dirian harapan yang bernyali menyuarakan tantangan dan kebebasan bermimpi. Pada akhirnya toh kenyataan berperan sebagai 'pendidik' bagi spiritualitas anak kecil manusia yang impiannya dikendarai kebahagiaan egosentrisnya.
Well, dalam pemahaman ini mungkin asersi Pagi di awal tadi menjadi terasa terlalu ekstrim sehingga mungkin yang lebih tepat adalah bahwa impian merupakan lawan main kenyataan dalam drama ujian berdurasi usia satu jiwa : kehidupan. Waktu ujian akan segera habis dan Allah, dengan sifat mahapengasihNya, membantu kita menyiapkan 'jawaban yang benar' dengan mengilhamkan impian agar kita tergugah merenungi kekuasaan nyataNya, Sang Pengalir Kenyataan, sembari mengasihi kita dengan berkah tak hinggaNya melalui pelajaran kebijaksanaan agung dan keajaiban tak terduga.
Meski banyak cerita mengenai impian yang terwujud, para pengharap yang dihadiahi keterkabulan dan jiwa-jiwa beruntung yang realitanya kebahagiaan, tetap saja bagi Pagi, impian dan kenyataan tidak pernah bisa didamaikan. Mungkin keduanya adalah seperti terang dan gelap; meski memang, perlu dipikirkan manakah yang terang dan mana yang sebenarnya gelap.
Tanpa memancing dikotomisasi idealis-realis terhadap Pagi dan pemimpi-pemimpi serupa yang sejujurnya telah sering merasa dikecewakan (dalam pemahaman pribadi) oleh yang namanya kenyataan, Pagi sekedar ingin meyakinkan diri sendiri bahwa keinginan, harapan, impian, dan cita bukanlah peti berisi mahkota melainkan peta menuju Kotak Harta.
Poin pertama disini mungkin dapat dibuat lebih jelas dengan analogi berikut. Misalkan ketika seorang anak menginginkan sesuatu, mungkin mainan, lalu berusaha mendapatkannya dengan merengek dan meminta kepada orang tuanya. Mungkin ia diberi, mungkin juga tidak. Tergantung pada kebijaksanaan sang orang tua. Jika ia diberi, sang orang tua akan mengharapkan suatu 'perkembangan' dalam diri si kecil setelah menyenangkannya tadi; entah itu perbaikan tingkah laku, sopan santun, atau yaa sekedar mengeratkan nuansa kasih sayang dengan si anak. Jika ia tidak diberi, si kecil tentu akan kesal, mungkin marah, atau bahkan mengamuk. Tetapi ia belajar banyak hal dan kebijaksanaan, diantaranya yaitu bahwa keinginan tidak selamanya dapat segera jadi nyata, atau bahwa 'usaha'nya masih perlu diperbaiki, mungkin dengan mencoba menampilkan pencapaian (dengan belajar dan berprestasi, misalnya) agar kelak sang orang tua dapat lebih tergugah untuk memberi apa yang diinginkannya. :)
Poin kedua baiknya dikaitkan dengan analogi barusan. Dari segi pemahamannya terhadap kehidupan, mungkin cocok jika manusia diposisikan sebagai anak kecil. Manusia berkeinginan, punya impian dan menyusun cita-cita meski ternyata toh hanya sebernilai mainan. Kemudian ia berusaha mendapatkan apa yang diinginkannya tersebut biarpun sejatinya 'usaha'nya itu hanyalah rengekan dan pintaan terhadap Sang Pencipta. Pada akhirnya, keputusan berada mutlak pada kekuasaan Tuhan. Hal yang mungkin sulit dipahami oleh si 'anak kecil manusia' adalah mengenai esensi dan konsekuensi terkehendakinya keputusan tersebut. Sisanya dapat ditafsirkan serupa sebagaimana disebutkan dalam analogi itu.
..
Setelah jelas bahwa terwujudnya impian bukanlah hak yang sebenarnya patut dituntut oleh manusia, ia semakin mengontraskan diri dengan kenyataan, yang seperti arus tak terbendung menerjang semua dirian harapan yang bernyali menyuarakan tantangan dan kebebasan bermimpi. Pada akhirnya toh kenyataan berperan sebagai 'pendidik' bagi spiritualitas anak kecil manusia yang impiannya dikendarai kebahagiaan egosentrisnya.
Well, dalam pemahaman ini mungkin asersi Pagi di awal tadi menjadi terasa terlalu ekstrim sehingga mungkin yang lebih tepat adalah bahwa impian merupakan lawan main kenyataan dalam drama ujian berdurasi usia satu jiwa : kehidupan. Waktu ujian akan segera habis dan Allah, dengan sifat mahapengasihNya, membantu kita menyiapkan 'jawaban yang benar' dengan mengilhamkan impian agar kita tergugah merenungi kekuasaan nyataNya, Sang Pengalir Kenyataan, sembari mengasihi kita dengan berkah tak hinggaNya melalui pelajaran kebijaksanaan agung dan keajaiban tak terduga.
Sabtu, 24 April 2010
Temani pagi berpuisi. :)
Selamat datang kembali di dunia pagi! Semesta pikiran dimana siang, petang, malam dan larut sekalipun, dipetualangi semegah pagi!
Kali ini Pagi ingin bercerita tentang sebuah hobi, yang lumayan umum tetapi masih mempunyai kesan eksklusif tersendiri, yaitu berpuisi. :)
Pagi sendiri telah lama berpuisi, merangkai frasa, mencoba susuni kalimat yang berisi. Pengalaman mengajarkan, berpuisi dapat menjadi pelampiasan ketika tekanan memuncak, pelepasan ketika perasaan membuncah. Berpuisi juga dapat mengasah kepekaan, dan ini kesimpulan Pagi setelah mengamati keseharian beberapa orang yang memang gemar berpuisi : aktifitas berpuisi adalah seperti membuka gerbang yang menghubungkan antara ruang takhingga pemikiran dengan kepadatan alam semesta, merefleksikan ide maupun idealisme, dari dan dalam realita dunia nyata.
Sastraku.
Nyaris bersinonim dengan nomina 'pembuat puisi', kata 'sastrawan' lebih umum dipakai oleh para pembuat puisi untuk merujuk dirinya maupun rekan sesama pembuat puisi. Para sastrawan mempunyai kebanggaan yang khas, kebanggaan yang jadi hak asasinya, yaitu kebanggaan terhadap karyanya sendiri. Tidak ada batasan kelayakan sastra, karena rasa transendenlah yang menjadi penilai utama dan oleh karenanya seorang sastrawan yang baik akan bangga terhadap semua karyanya dan memandang karya-karyanya tersebut seperti anak-anaknya. Namun, kebanggaan yang demikian bukanlah sebentuk kecambah dari kesombongan melainkan sejumput akar kokoh identitas diri. Telah jadi hukum bahwa sastra (dalam hal ini, puisi) yang berhasil adalah sastra yang terlahir dari kesungguhan, dan bersih dari penyakit pengekoran. Ya, sastrawan sejati akan mengakui bahwa sastra adalah dunia yang haus akan hal baru. Meski demikian, sebuah sastra tidak semestinya mengabaikan kepemirsaan, yaitu pasar yang menghidupinya. Berkaitan dengan ini, sastrawan dapat dengan mudah terjerumus dalam arus, bersastra sebagaimana diminta saja. Pasaran sastra hendaknya disikapi seperti sebuah tubuh yang senantiasa sakit, yang hanya dapat sembuh dengan suntikan sastra murni. Alih-alih mencekoki dengan sajian sastra yang begitu-begitu saja, sastrawan yang baik akan memanfaatkan buah-buahan dari pohon pemikiran di lubuk maknanya untuk menyediakan penyembuh yang selalu baru, karena 'penyakit' (baca : rasa lapar makna) tadi akan segera kebal terhadap pengobatan usang (yang terjadi sebagai akibat dari kecepatan zaman). Dengan demikian, karya yang merupakan perwujudan kebanggaan sastrawi seorang sastrawan haruslah menjadi sastraku baginya. Terdengar egois dan omong besar, mungkin. Tetapi bukankah sastra seharusnya menjadi aktualitas kepribadian, peta indah yang diukir dengan meresapi emas-emas pemaknaan dari aliran agung sang Takdir, aliran kebijaksanaan Ilahi?
Bahasa penuh warna.
Selain sebagai sebuah upaya aktualisasi diri, berpuisi berperan mengasah indera. Oleh karenanya, puisi haruslah berestetika karena ia berurusan dengan kemurnian pemaknaan. Nah, standar estetika inilah yang menjadi ruang bebas para sastrawan untuk menentukan. Sepayah apapun, tidak ada sebuah puisi pun yang pantas kita hina, karena menghinanya sama saja dengan menghina si pembuat. Puisi dikehendaki sebagai sarana komunikasi ideal yang elitis, dimana makna-makna ditancapkan dengan lebih dalam dan mengena. Ketika berpuisi pun seorang sastrawan lazimnya menghindari monotonitas kata (hal ini akan menelanjangi kemiskinan diksinya), kecuali jika ia memang meniatkan penekanan (melalui repetisi) maupun penyindiran. Sebuah karya sastra yang ideal akan membuat perbedaan sebelum dan setelah dibaca : ia menunjuki keindahan tersembunyi yang tersamar dalam belantara makna, dan ia memperdengarkan kebijaksanaan sunyi yang seringkali tertelan keseharian fana. Sastra, puisi yang berharga adalah sebuah pembahasaan harmonis dari sekantung makna, dengan barisan-barisan frasa yang penuh warna.
Bukan Benang Kusut
Pandangan yang cukup umum dalam masyarakat awam adalah bahwa bahasa sastra (lebih tepatnya, sastrawi) adalah bahasa yang rumit, yang belum masuk pencernaan makna dengan membacanya sekali saja. Ini tidak sepenuhnya benar, dan tidak seutuhnya salah. Puisi memang mengedepankan estetika, dan oleh karenanya seringkali mengorbankan kesederhanaan. Meski demikian, hendaknya bait-bait rumit dalam sebuah puisi tidak dipandang sebagai benang kusut, tetapi sebagai rute panjang diperjalankannya setumpuk makna dari ruang tinggi perenungan ke ruang nyata pengecapan dan penginderaan. Baris demi baris dalam sebuah puisi adalah rajutan tekun sang sastrawan, pakaian gagasan penuh warna yang kedalamnya makna dilahirkan, agar kemudian dapat bergerak dan berjalan menyentuhi pemikiran banyak orang. Sebenarnya, tidak betul-betul diperlukan sebuah teori dalam berpuisi, karena ia seni bebas yang memang mulanya diniatkan sebagai konsumsi pribadi. Dan sebagaimana sebuah lukisan yang rumit tidak akan dicaci justru malah disiram puji, puisi yang canggih, mungkin sedikit berbelit, dan pada akhirnya menyuguhkan klimaks yang mengena, selain menjadi pelatih kepekaan bagi si pembuat, adalah amat berharga bagi pembacanya karena ia dapat mengajari kebijaksanaan.
Oleh karena itu, Pagi mengajak kalian para sahabat pagi untuk mencoba memulai berpuisi (bagi yang belum) dan bagi para sastrawan yang mendengarkan pagi, Pagi sampaikan salam hangat dan ajakan mari berbagi makna. :)
Kali ini Pagi ingin bercerita tentang sebuah hobi, yang lumayan umum tetapi masih mempunyai kesan eksklusif tersendiri, yaitu berpuisi. :)
Pagi sendiri telah lama berpuisi, merangkai frasa, mencoba susuni kalimat yang berisi. Pengalaman mengajarkan, berpuisi dapat menjadi pelampiasan ketika tekanan memuncak, pelepasan ketika perasaan membuncah. Berpuisi juga dapat mengasah kepekaan, dan ini kesimpulan Pagi setelah mengamati keseharian beberapa orang yang memang gemar berpuisi : aktifitas berpuisi adalah seperti membuka gerbang yang menghubungkan antara ruang takhingga pemikiran dengan kepadatan alam semesta, merefleksikan ide maupun idealisme, dari dan dalam realita dunia nyata.
Sastraku.
Nyaris bersinonim dengan nomina 'pembuat puisi', kata 'sastrawan' lebih umum dipakai oleh para pembuat puisi untuk merujuk dirinya maupun rekan sesama pembuat puisi. Para sastrawan mempunyai kebanggaan yang khas, kebanggaan yang jadi hak asasinya, yaitu kebanggaan terhadap karyanya sendiri. Tidak ada batasan kelayakan sastra, karena rasa transendenlah yang menjadi penilai utama dan oleh karenanya seorang sastrawan yang baik akan bangga terhadap semua karyanya dan memandang karya-karyanya tersebut seperti anak-anaknya. Namun, kebanggaan yang demikian bukanlah sebentuk kecambah dari kesombongan melainkan sejumput akar kokoh identitas diri. Telah jadi hukum bahwa sastra (dalam hal ini, puisi) yang berhasil adalah sastra yang terlahir dari kesungguhan, dan bersih dari penyakit pengekoran. Ya, sastrawan sejati akan mengakui bahwa sastra adalah dunia yang haus akan hal baru. Meski demikian, sebuah sastra tidak semestinya mengabaikan kepemirsaan, yaitu pasar yang menghidupinya. Berkaitan dengan ini, sastrawan dapat dengan mudah terjerumus dalam arus, bersastra sebagaimana diminta saja. Pasaran sastra hendaknya disikapi seperti sebuah tubuh yang senantiasa sakit, yang hanya dapat sembuh dengan suntikan sastra murni. Alih-alih mencekoki dengan sajian sastra yang begitu-begitu saja, sastrawan yang baik akan memanfaatkan buah-buahan dari pohon pemikiran di lubuk maknanya untuk menyediakan penyembuh yang selalu baru, karena 'penyakit' (baca : rasa lapar makna) tadi akan segera kebal terhadap pengobatan usang (yang terjadi sebagai akibat dari kecepatan zaman). Dengan demikian, karya yang merupakan perwujudan kebanggaan sastrawi seorang sastrawan haruslah menjadi sastraku baginya. Terdengar egois dan omong besar, mungkin. Tetapi bukankah sastra seharusnya menjadi aktualitas kepribadian, peta indah yang diukir dengan meresapi emas-emas pemaknaan dari aliran agung sang Takdir, aliran kebijaksanaan Ilahi?
Bahasa penuh warna.
Selain sebagai sebuah upaya aktualisasi diri, berpuisi berperan mengasah indera. Oleh karenanya, puisi haruslah berestetika karena ia berurusan dengan kemurnian pemaknaan. Nah, standar estetika inilah yang menjadi ruang bebas para sastrawan untuk menentukan. Sepayah apapun, tidak ada sebuah puisi pun yang pantas kita hina, karena menghinanya sama saja dengan menghina si pembuat. Puisi dikehendaki sebagai sarana komunikasi ideal yang elitis, dimana makna-makna ditancapkan dengan lebih dalam dan mengena. Ketika berpuisi pun seorang sastrawan lazimnya menghindari monotonitas kata (hal ini akan menelanjangi kemiskinan diksinya), kecuali jika ia memang meniatkan penekanan (melalui repetisi) maupun penyindiran. Sebuah karya sastra yang ideal akan membuat perbedaan sebelum dan setelah dibaca : ia menunjuki keindahan tersembunyi yang tersamar dalam belantara makna, dan ia memperdengarkan kebijaksanaan sunyi yang seringkali tertelan keseharian fana. Sastra, puisi yang berharga adalah sebuah pembahasaan harmonis dari sekantung makna, dengan barisan-barisan frasa yang penuh warna.
Bukan Benang Kusut
Pandangan yang cukup umum dalam masyarakat awam adalah bahwa bahasa sastra (lebih tepatnya, sastrawi) adalah bahasa yang rumit, yang belum masuk pencernaan makna dengan membacanya sekali saja. Ini tidak sepenuhnya benar, dan tidak seutuhnya salah. Puisi memang mengedepankan estetika, dan oleh karenanya seringkali mengorbankan kesederhanaan. Meski demikian, hendaknya bait-bait rumit dalam sebuah puisi tidak dipandang sebagai benang kusut, tetapi sebagai rute panjang diperjalankannya setumpuk makna dari ruang tinggi perenungan ke ruang nyata pengecapan dan penginderaan. Baris demi baris dalam sebuah puisi adalah rajutan tekun sang sastrawan, pakaian gagasan penuh warna yang kedalamnya makna dilahirkan, agar kemudian dapat bergerak dan berjalan menyentuhi pemikiran banyak orang. Sebenarnya, tidak betul-betul diperlukan sebuah teori dalam berpuisi, karena ia seni bebas yang memang mulanya diniatkan sebagai konsumsi pribadi. Dan sebagaimana sebuah lukisan yang rumit tidak akan dicaci justru malah disiram puji, puisi yang canggih, mungkin sedikit berbelit, dan pada akhirnya menyuguhkan klimaks yang mengena, selain menjadi pelatih kepekaan bagi si pembuat, adalah amat berharga bagi pembacanya karena ia dapat mengajari kebijaksanaan.
Oleh karena itu, Pagi mengajak kalian para sahabat pagi untuk mencoba memulai berpuisi (bagi yang belum) dan bagi para sastrawan yang mendengarkan pagi, Pagi sampaikan salam hangat dan ajakan mari berbagi makna. :)
Minggu, 18 April 2010
Pagi dunia!
Kutipan pagi ini : dompet tidak harus tebal yang penting nurani padat berisi dan iman menyala-nyala. Bukankah dunia ini kesenangan yang memperdayakan?
Pagi, Temani Manusia Memandang Kehidupan.
Kehidupan manusia selalu penuh liku; ada kalanya berbahagia, ada kalanya semua terasa sakit dan sedih bagai hati kena raksa.
Sebenarnya semua tergantung pada cara pandang.
1. Kita dapat memandang kehidupan ini sebagai sebuah penerjemahan dari kata 'ketidakpastian'; dengan konsekuensi bahwa ketika kita berbahagia kita akan dipaksa bersedih, karena kita tidak tahu kapan kebahagiaan tersebut berakhir, dan ketika sedang bersedih sekali pun kita akan dipaksa meratapi, karena kita juga tidak tahu kapan kesedihan tersebut berakhir. Dalam cara pandang ini mungkin terdapat sejumlah keparalelan dengan materialisme, yang sejatinya menuhankan 'kesempatan acak' sebagai yang berperan memunculkan alam semesta dari ketiadaan, dan oleh karenanya menginstruksi manusia untuk menjadi makhluk (oportunis) yang hanya hidup saat ini : dengan mengasumsikan bahwa kehidupan adalah ketidakpastian yang hanya berisikan kejadian acak tanpa makna, orientasi seorang manusia akan secara alami beralih pada pemenuhan keinginan (dan bukannya kebutuhan), yaitu untuk bersegera menuruti seruan hawa nafsunya, tentu dengan segala cara tanpa memedulikan halal-haram. Semua itu karena baginya, kesempatan hanya ada hari ini dan kehidupan hanya ada saat ini : bersenang-senanglah karena hari esok belum tentu ada. Perhatikan, betapa sebuah dugaan sederhana bahwa kehidupan ini adalah ketidakpastian dapat menuntun seseorang untuk menjadi budak hawa nafsunya, yang pada akhirnya, setelah keinginan-keinginannya terpenuhi sekalipun tetap ia akan terhisap ke dalam kesuraman penjara eksistensi, tak punya daya menghadapi eksekusi sang waktu bersama singa buas ketiadaan. Anda merasa mempunyai cara pandang ini? Tenang, adalah wajar untuk mengasosiasikan ketidakpastian pada konsep yang seabstrak kata 'kehidupan', tetapi jika Anda masih ingin menjadi bagian dari golongan orang-orang yang berakal maka Anda dapat selamat dari cara pandang ini dengan mengarahkan asosiasi alami Anda tadi ke sebuah cara pandang yang akan segera saya jelaskan.
2. Kehidupan bukanlah ketidakpastian, melainkan sebuah kepastian yang tidak kita (manusia) ketahui. Penting untuk mengontraskan ini dengan cara pandang sebelumnya, yang beranggapan bahwa kehidupan adalah benar-benar ketidakpastian mutlak tanpa adanya sedikitpun makna pada letusan gunung, awan yang berarak, hujan yang menumbuhkan tanaman, siang dan malam yang berganti giliran, semua keberhasilan serta kegagalanmu dan segala hal. Dalam cara pandang yang kedua ini ditekankan bahwa terdapat kepastian dalam kehidupan ini, yaitu bahwa tiap hembusan angin mempunyai/membawa maksud, bahwa tiap tetesan hujan dititipi tugas penting, bahwa curahan kehangatan matahari bukanlah tanpa arti, dan bahwa segala yang bergerak bukanlah dibahanbakari oleh kebetulan. Secara naluriah, kita akan menyetujui cara pandang ini karena kita pun tidak melakukan sesuatu karena kebetulan, misalnya, apakah kita pergi ke kampus karena 'kesempatan acak' atau karena kita memang harus menghadiri kelas? Atau apakah kita menggerakkan tangan untuk mengambil makanan lalu memasukkannya dengan penuh kesadaran ke mulut kita untuk kemudian dicerna adalah karena 'kesempatan acak' atau karena kita memang lapar dan ingin mengisi tenaga? Secara logika pun, dengan 'kesempatan acak', tidak akan ada keberlanjutan. Misalkan kepala Anda terjadi dari sebuah kesempatan acak. Maka bagaimana leher Anda bisa terjadi secara 'acak' pada tempatnya yang dengan tepat menghubungkan kepala dengan badan, meski juga ada kesempatan bahwa ia muncul secara acak di takhingga lokasi lain di alam semesta. Ya, jika alam semesta memang terlahir dari sebuah proses kebetulan, dan bahwa tiap benda terjadi secara acak, mengapa kita tidak pernah menyaksikan sebuah leher yang tiba-tiba muncul di tengah jalan, atau mengapa atom-atom membentuk susunan yang menjadi sebuah jari secara utuh padahal ada takhingga cara mereka dapat membentuk susunan? Dalam ekstrim yang paling sederhana, dunia yang dituhani kesempatan acak seperti itu tidak akan memungkinkan adanya garis lurus, melainkan hanya titik-titik yang tersebar tanpa arti.
Saya rasa cukup banyak penjelasan mengenai adanya kepastian dalam pengaturan alam semesta, dan khususnya, dalam berjalannya kehidupan. Memang, kadang terjadi hal-hal yang sering kita deskripsikan sebagai 'kebetulan', seperti ketika kita kebetulan bertemu teman lama, kebetulan terpeleset kulit pisang, dll. Berhati-hatilah kawan, yang sedang terjadi sebenarnya bukanlah hasil 'kesempatan acak' maupun kebetulan, melainkan semua telah terencana secara pasti (dalam takdir) : kita-nya saja yang tidak mempunyai pengetahuan cukup atas kepastian ini, seperti halnya ketika orang lain berbicara dengan kita, kata-kata yang dia ucapkan bukanlah tersusun secara ajaib melalui kebetulan melainkan hasil pengolahan pikirannya, yang tentu kita tidak mempunyai pengetahuan atasnya.
Begitulah. Kehidupan selalu penuh liku tetapi lika-liku tersebut tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan ia adalah ujian dari Sang Pencipta. Bahagia atau bersedih, kita tidak berhak mengeluh karena kita bahkan tidak menciptakan diri kita sendiri. Bahagia atau bersedih, kita harus senantiasa bersyukur karena masih bisa mendapatkan pagi, dan kita juga harus tetap 'awas' dalam menjalani hidup ini karena belum tentu kita akan dapat menjumpai lagi.
Maha Agung Engkau ya Allah, yang telah menjadikan pagi sebagai pengingat, penyegar dan penegar iman bagi kami.
Sebenarnya semua tergantung pada cara pandang.
1. Kita dapat memandang kehidupan ini sebagai sebuah penerjemahan dari kata 'ketidakpastian'; dengan konsekuensi bahwa ketika kita berbahagia kita akan dipaksa bersedih, karena kita tidak tahu kapan kebahagiaan tersebut berakhir, dan ketika sedang bersedih sekali pun kita akan dipaksa meratapi, karena kita juga tidak tahu kapan kesedihan tersebut berakhir. Dalam cara pandang ini mungkin terdapat sejumlah keparalelan dengan materialisme, yang sejatinya menuhankan 'kesempatan acak' sebagai yang berperan memunculkan alam semesta dari ketiadaan, dan oleh karenanya menginstruksi manusia untuk menjadi makhluk (oportunis) yang hanya hidup saat ini : dengan mengasumsikan bahwa kehidupan adalah ketidakpastian yang hanya berisikan kejadian acak tanpa makna, orientasi seorang manusia akan secara alami beralih pada pemenuhan keinginan (dan bukannya kebutuhan), yaitu untuk bersegera menuruti seruan hawa nafsunya, tentu dengan segala cara tanpa memedulikan halal-haram. Semua itu karena baginya, kesempatan hanya ada hari ini dan kehidupan hanya ada saat ini : bersenang-senanglah karena hari esok belum tentu ada. Perhatikan, betapa sebuah dugaan sederhana bahwa kehidupan ini adalah ketidakpastian dapat menuntun seseorang untuk menjadi budak hawa nafsunya, yang pada akhirnya, setelah keinginan-keinginannya terpenuhi sekalipun tetap ia akan terhisap ke dalam kesuraman penjara eksistensi, tak punya daya menghadapi eksekusi sang waktu bersama singa buas ketiadaan. Anda merasa mempunyai cara pandang ini? Tenang, adalah wajar untuk mengasosiasikan ketidakpastian pada konsep yang seabstrak kata 'kehidupan', tetapi jika Anda masih ingin menjadi bagian dari golongan orang-orang yang berakal maka Anda dapat selamat dari cara pandang ini dengan mengarahkan asosiasi alami Anda tadi ke sebuah cara pandang yang akan segera saya jelaskan.
2. Kehidupan bukanlah ketidakpastian, melainkan sebuah kepastian yang tidak kita (manusia) ketahui. Penting untuk mengontraskan ini dengan cara pandang sebelumnya, yang beranggapan bahwa kehidupan adalah benar-benar ketidakpastian mutlak tanpa adanya sedikitpun makna pada letusan gunung, awan yang berarak, hujan yang menumbuhkan tanaman, siang dan malam yang berganti giliran, semua keberhasilan serta kegagalanmu dan segala hal. Dalam cara pandang yang kedua ini ditekankan bahwa terdapat kepastian dalam kehidupan ini, yaitu bahwa tiap hembusan angin mempunyai/membawa maksud, bahwa tiap tetesan hujan dititipi tugas penting, bahwa curahan kehangatan matahari bukanlah tanpa arti, dan bahwa segala yang bergerak bukanlah dibahanbakari oleh kebetulan. Secara naluriah, kita akan menyetujui cara pandang ini karena kita pun tidak melakukan sesuatu karena kebetulan, misalnya, apakah kita pergi ke kampus karena 'kesempatan acak' atau karena kita memang harus menghadiri kelas? Atau apakah kita menggerakkan tangan untuk mengambil makanan lalu memasukkannya dengan penuh kesadaran ke mulut kita untuk kemudian dicerna adalah karena 'kesempatan acak' atau karena kita memang lapar dan ingin mengisi tenaga? Secara logika pun, dengan 'kesempatan acak', tidak akan ada keberlanjutan. Misalkan kepala Anda terjadi dari sebuah kesempatan acak. Maka bagaimana leher Anda bisa terjadi secara 'acak' pada tempatnya yang dengan tepat menghubungkan kepala dengan badan, meski juga ada kesempatan bahwa ia muncul secara acak di takhingga lokasi lain di alam semesta. Ya, jika alam semesta memang terlahir dari sebuah proses kebetulan, dan bahwa tiap benda terjadi secara acak, mengapa kita tidak pernah menyaksikan sebuah leher yang tiba-tiba muncul di tengah jalan, atau mengapa atom-atom membentuk susunan yang menjadi sebuah jari secara utuh padahal ada takhingga cara mereka dapat membentuk susunan? Dalam ekstrim yang paling sederhana, dunia yang dituhani kesempatan acak seperti itu tidak akan memungkinkan adanya garis lurus, melainkan hanya titik-titik yang tersebar tanpa arti.
Saya rasa cukup banyak penjelasan mengenai adanya kepastian dalam pengaturan alam semesta, dan khususnya, dalam berjalannya kehidupan. Memang, kadang terjadi hal-hal yang sering kita deskripsikan sebagai 'kebetulan', seperti ketika kita kebetulan bertemu teman lama, kebetulan terpeleset kulit pisang, dll. Berhati-hatilah kawan, yang sedang terjadi sebenarnya bukanlah hasil 'kesempatan acak' maupun kebetulan, melainkan semua telah terencana secara pasti (dalam takdir) : kita-nya saja yang tidak mempunyai pengetahuan cukup atas kepastian ini, seperti halnya ketika orang lain berbicara dengan kita, kata-kata yang dia ucapkan bukanlah tersusun secara ajaib melalui kebetulan melainkan hasil pengolahan pikirannya, yang tentu kita tidak mempunyai pengetahuan atasnya.
Begitulah. Kehidupan selalu penuh liku tetapi lika-liku tersebut tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan ia adalah ujian dari Sang Pencipta. Bahagia atau bersedih, kita tidak berhak mengeluh karena kita bahkan tidak menciptakan diri kita sendiri. Bahagia atau bersedih, kita harus senantiasa bersyukur karena masih bisa mendapatkan pagi, dan kita juga harus tetap 'awas' dalam menjalani hidup ini karena belum tentu kita akan dapat menjumpai lagi.
Maha Agung Engkau ya Allah, yang telah menjadikan pagi sebagai pengingat, penyegar dan penegar iman bagi kami.
Sabtu, 17 April 2010
Pagi yang Bercerita
'Pagi menyempurna seiring emas langit perlahan disingkapi kilauannya.'
Sebuah pagi mungkin tak lebih dari sekedar momen yang mengawali dan masa bersiap menyambut hari, atau bagi beberapa orang, menit-menit ketika bantal dan selimut entah mengapa terasa begitu lembut dan menyamankan.
Sebuah pagi memang hanya sebuah pagi. Tak ada yang perlu diceritakan lagi mengenai sebuah pagi karena ia sendiri bercerita melalui dunia, yang memaparkan keajaiban seiring pagi menyempurna bersama kenaikan perlahan sang surya yang menyingkap dari kegelapan, ukiran-ukiran indah milik Sang Pencipta dan Pemelihara, di bumi yang kehangatan pagi menghampar diatasnya.
Pagi bercerita dalam bahasa alam semesta yang gemanya meluas ke separuh bumi, yaitu bahwa gelap tak akan menetap selamanya dan terang tak akan hengkang lama-lama. Pagi akan selalu menjadi kabar gembira bagi mereka yang memuji Tuhannya, karena datangnya sebuah pagi berarti masih diberinya mereka kesempatan untuk mengucap syukur dapat kembali melihat cahaya dan ini artinya mereka masih diberi keleluasaan untuk memperbaiki diri. Sapaan sebuah pagi adalah salam hangat bagi mereka yang mengingat Tuhannya, karena pagi membawa pesan amat jelas bahwa kekuasaanNya mutlak melebihi dalamnya rasa takut manusia akan tiadanya esok hari, dengan mengatakan kepada mereka yang memperhatikan, "bangun dan bersyukurlah, engkau khawatir tidak akan dapat bangun dari lelapmu tetapi kini Tuhanmu telah menyalakan lentera cahaya sekali lagi agar kau punya kesempatan melanjutkan perjalananmu ke kebenaran, maka bersiaplah dan jangan menjauh dari cahayaNya atau kau mungkin akan tergelincir ke dalam kubangan dosa, yang setan samarkan dalam sisa-sisa kegelapan". Ya, pagi mengabarkan Kemahapemurahan Allah, sifat MahaKasih dan MahaLembut-Nya terrefleksi dalam tiap kesejukan yang menyertai pagi menyapa bumi.
Dengan kata-kata yang sedikit berbeda, pagi memaparkan kenyataan lain yang seharusnya menghentak tiap pikiran yang berkesadaran. Jika seseorang menemui pagi, selain ia mutlak harus bersyukur hendaknya ia juga menjadi lebih awas, yaitu bahwa sebuah pagi di usianya telah berlalu, maka makin dekatlah ia menuju pagi terakhirnya. Perhatikan, betapa terlibatnya kebijaksanaan agung Tuhan dalam segala sesuatu. Mewujud dalam pagi, kasih sayangNya mengajak manusia bersyukur, menyirami manusia dengan beberapa bagian dari ketakterhinggaan rahmat; dan pada saat yang bersamaan, kasih sayangNya mengajak manusia merenungi keterbatasannya, menyentuh pribadi-pribadi bercahaya yang tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa pagi ini bisa saja pagi terakhirnya, dalam berbuat dan berpemikiran sehingga ia tidak menyimpang dari jalan terang yang ditunjukkan Tuhannya dan tidaklah ia tergelincir ke dalam perangkap iblis yang hanya disamarkan kegelapan tipis.
Pagi adalah cahaya, yang menghangatkan dan menerangi. Bersyukurlah sebelum dinginnya malam membuatmu menggigil dan menggerutu; lalu perhatikan dan ikutilah jalan yang lurus dari Tuhanmu dan jangan menyimpang, karena gelap dapat datang kapan saja tanpa menyempatkanmu kembali ke jalan yang benar, padahal perangkap bertebaran dihadapanmu!
Sebuah pagi mungkin tak lebih dari sekedar momen yang mengawali dan masa bersiap menyambut hari, atau bagi beberapa orang, menit-menit ketika bantal dan selimut entah mengapa terasa begitu lembut dan menyamankan.
Sebuah pagi memang hanya sebuah pagi. Tak ada yang perlu diceritakan lagi mengenai sebuah pagi karena ia sendiri bercerita melalui dunia, yang memaparkan keajaiban seiring pagi menyempurna bersama kenaikan perlahan sang surya yang menyingkap dari kegelapan, ukiran-ukiran indah milik Sang Pencipta dan Pemelihara, di bumi yang kehangatan pagi menghampar diatasnya.
Pagi bercerita dalam bahasa alam semesta yang gemanya meluas ke separuh bumi, yaitu bahwa gelap tak akan menetap selamanya dan terang tak akan hengkang lama-lama. Pagi akan selalu menjadi kabar gembira bagi mereka yang memuji Tuhannya, karena datangnya sebuah pagi berarti masih diberinya mereka kesempatan untuk mengucap syukur dapat kembali melihat cahaya dan ini artinya mereka masih diberi keleluasaan untuk memperbaiki diri. Sapaan sebuah pagi adalah salam hangat bagi mereka yang mengingat Tuhannya, karena pagi membawa pesan amat jelas bahwa kekuasaanNya mutlak melebihi dalamnya rasa takut manusia akan tiadanya esok hari, dengan mengatakan kepada mereka yang memperhatikan, "bangun dan bersyukurlah, engkau khawatir tidak akan dapat bangun dari lelapmu tetapi kini Tuhanmu telah menyalakan lentera cahaya sekali lagi agar kau punya kesempatan melanjutkan perjalananmu ke kebenaran, maka bersiaplah dan jangan menjauh dari cahayaNya atau kau mungkin akan tergelincir ke dalam kubangan dosa, yang setan samarkan dalam sisa-sisa kegelapan". Ya, pagi mengabarkan Kemahapemurahan Allah, sifat MahaKasih dan MahaLembut-Nya terrefleksi dalam tiap kesejukan yang menyertai pagi menyapa bumi.
Dengan kata-kata yang sedikit berbeda, pagi memaparkan kenyataan lain yang seharusnya menghentak tiap pikiran yang berkesadaran. Jika seseorang menemui pagi, selain ia mutlak harus bersyukur hendaknya ia juga menjadi lebih awas, yaitu bahwa sebuah pagi di usianya telah berlalu, maka makin dekatlah ia menuju pagi terakhirnya. Perhatikan, betapa terlibatnya kebijaksanaan agung Tuhan dalam segala sesuatu. Mewujud dalam pagi, kasih sayangNya mengajak manusia bersyukur, menyirami manusia dengan beberapa bagian dari ketakterhinggaan rahmat; dan pada saat yang bersamaan, kasih sayangNya mengajak manusia merenungi keterbatasannya, menyentuh pribadi-pribadi bercahaya yang tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa pagi ini bisa saja pagi terakhirnya, dalam berbuat dan berpemikiran sehingga ia tidak menyimpang dari jalan terang yang ditunjukkan Tuhannya dan tidaklah ia tergelincir ke dalam perangkap iblis yang hanya disamarkan kegelapan tipis.
Pagi adalah cahaya, yang menghangatkan dan menerangi. Bersyukurlah sebelum dinginnya malam membuatmu menggigil dan menggerutu; lalu perhatikan dan ikutilah jalan yang lurus dari Tuhanmu dan jangan menyimpang, karena gelap dapat datang kapan saja tanpa menyempatkanmu kembali ke jalan yang benar, padahal perangkap bertebaran dihadapanmu!
Langganan:
Komentar (Atom)
