Rabu, 19 Mei 2010

Bedah Sajak, "Derita pun Candai Penyerita Andai"

Halo kawan pagi, masih dalam semangat 'menyala hangat lagi', kali ini Pagi akan mengulas sebuah sajak pribadi yang Pagi susun belum lama ini dan dimuat dalam postingan sebelumnya. Mungkin terasa narsistik dan seegois penulisan otobiografi, tetapi Pagi hanya berniat mempelajari dan memanfaatkan tiap inspirasi, yang menurut Pagi berharga.
Berikut puisi yang dimaksud,


Derita pun Candai Penyerita
Andai.


Mungkin aku keberadaan
menyedihkan
mungkin aku pembicaraan
meletihkan,
dan mungkin aku awan tak
terwarnai
butir pasir tak termaknai.


Aku penyaksi laju waktu
penyaji diksi batu,
dan aku pendiam penyenang nanti
pengenang tenggelam mati.


Haruskah aku ada
dan adakah aku harus?
Mengapa aku ada
dan adakah aku mengapa?
Indahkah keakuan
dan akukah keindahan?
Bodohkah pengakuan
dan akukah pembodohan?


Mestikah penuh makna,
dan bermaknakah sebuah mesti?


Aku juara buang waktu
pemimpin gerakan diam saja,
karena toh suaraku oleh uang dibuat
buntu
dipelintir seakan berdeham saja.


Meski kini kuasaku hanya di puncak
lembahku
dan asaku hanya sampai di pundak
sembahku,
alam semesta kemalanganku
akan dipestai kematanganku.




Setidaknya begitu kata andaiku.

**
(Ankara, 18 Mei 2010)


Langsung saja, secara keseluruhan puisi ini menggambarkan kondisi kejiwaan Pagi saat penulisan.

Dalam bait pertama, ditekankan perasaan mengenai tidak signifikan dan tidak berharganya keberadaan Pagi, dalam konteks langit luas peradaban maupun gunungan pasir manusia.

Dalam bait kedua, kemungilan Pagi tampil dalam bentuk berbeda. Pagi berperan sebagai "penyaksi laju waktu", pihak yang berposisi sebagai penonton dan apresiator dari rentetan kejadian di dunia; untuk kemudian muncul sebagai "penyaji diksi batu", mengkritisi masalah-masalah dengan setengah hati yang kemudian dianggap seperti lemparan batu sambil lalu. Sebagai pendiam, Pagi juga sadar telah sering menunda kesempatan dan lebih cenderung memerangkap diri di masa lalu.

Bait ketiga mengilustrasikan konflik internal batiniah yang terjadi ketika Pagi merenungi makna keberadaan Pagi sendiri, mempertimbangkan kedua bait sebelumnya dan menyentuh-nyentuh luka keakuan yang melekat erat pada kepribadian Pagi, serta mempertanyakan nilai sebuah kejujuran dan peran apakah yang sebenarnya telah selama ini Pagi jalani, dalam klausa "bodohkah pengakuan dan akukah pembodohan?"

Bait keempat menghentikan gejolak batin tersebut sejenak dan mempertanyakan pentingnya dan kemestian mencari tahu makna tersebut. Kemestian itu sendiri pun kemudian dipertanyakan keberhargaan dan kebermaknaannya.

Melalui beberapa ironi dalam bait kelima, Pagi mulai berkontemplasi mengenai insignifikansinya, dan membuat sedikit apologi dengan menyalahkan tidak kondusifnya keadaan dan keberadaan pihak yang menekan aksi dan teriakannya melalui segala cara.

Bait keenam kemudian menyimbolkan telah disiapkannya telaga ancaman Pagi, yang siap meluber, menumpahi dan menenggelamkan semua penentang begitu waktunya tiba, serta bahwa kelak ia akan kembali ke atas angin dan menemukan posisinya dalam pesta makna dunia.

Sajak pun ditutup dengan sekalimat resolusi antiklimaktis, yaitu bahwa ancaman dan prediksi yang digadang-gadang di bait keenam pun hanyalah produk pengandaian Pagi. Dengan cara ini Pagi menegaskan bahwa optimismenya hanyalah rencana, dan pada akhirnya Tuhan lah penentu yang Maha Berkuasa memutuskan terjadinya. Bagaimanapun, harapan masih berharga, sebagaimana tercermin dalam pemilihan kata 'setidaknya' dibandingkan 'namun' atau 'tetap saja'. Pagi ingin berbagi optimisme ini kepada pembaca sajaknya. :)

..

Demikianlah, melalui ulasan singkat dari secuil sajak sederhana ini Pagi berharap dapat menyumbang kesegaran kedalam pemikiran kawan-kawan. Dengan memakai diri sebagai cermin perefleksi, semoga ajakan kebaikan dan kebijaksanaan dapat terpancar jauh lebih dalam, serta tersampaikan dengan lebih mengena. ;)

Senin, 17 Mei 2010

Menyala Hangat Lagi

Pagi dunia! Awal hari benar-benar sumber inspirasi, berikut bongkahan bait yang Pagi resapi beberapa menit lalu. Ada beberapa pelajaran didalamnya, insya Allah akan Pagi kupasi satu per satu. For now on, enjoy.


Derita pun Candai Penyerita Andai.


Mungkin aku keberadaan menyedihkan
mungkin aku pembicaraan meletihkan,
dan mungkin aku awan tak terwarnai
butir pasir tak termaknai.

Aku penyaksi laju waktu
penyaji diksi batu,
dan aku pendiam penyenang nanti
pengenang tenggelam mati.

Haruskah aku ada
dan adakah aku harus?
Mengapa aku ada
dan adakah aku mengapa?
Indahkah keakuan
dan akukah keindahan?
Bodohkah pengakuan
dan akukah pembodohan?

Mestikah penuh makna,
dan bermaknakah sebuah mesti?

Aku juara buang waktu
pemimpin gerakan diam saja,
karena toh suaraku oleh uang dibuat buntu
dipelintir seakan berdeham saja.

Meski kini kuasaku hanya di puncak lembahku
dan asaku hanya sampai di pundak sembahku,
alam semesta kemalanganku
akan dipestai kematanganku.


Setidaknya begitu kata andaiku.



**
(Ankara, 18 Mei 2010)

Jumat, 14 Mei 2010

Lelehan.

Kawan pagi, tepat sepertinya jika impian diumpamakan sebagai lawan dari kenyataan.

Meski banyak cerita mengenai impian yang terwujud, para pengharap yang dihadiahi keterkabulan dan jiwa-jiwa beruntung yang realitanya kebahagiaan, tetap saja bagi Pagi, impian dan kenyataan tidak pernah bisa didamaikan. Mungkin keduanya adalah seperti terang dan gelap; meski memang, perlu dipikirkan manakah yang terang dan mana yang sebenarnya gelap.


Tanpa memancing dikotomisasi idealis-realis terhadap Pagi dan pemimpi-pemimpi serupa yang sejujurnya telah sering merasa dikecewakan (dalam pemahaman pribadi) oleh yang namanya kenyataan, Pagi sekedar ingin meyakinkan diri sendiri bahwa keinginan, harapan, impian, dan cita bukanlah peti berisi mahkota melainkan peta menuju Kotak Harta.

Poin pertama disini mungkin dapat dibuat lebih jelas dengan analogi berikut. Misalkan ketika seorang anak menginginkan sesuatu, mungkin mainan, lalu berusaha mendapatkannya dengan merengek dan meminta kepada orang tuanya. Mungkin ia diberi, mungkin juga tidak. Tergantung pada kebijaksanaan sang orang tua. Jika ia diberi, sang orang tua akan mengharapkan suatu 'perkembangan' dalam diri si kecil setelah menyenangkannya tadi; entah itu perbaikan tingkah laku, sopan santun, atau yaa sekedar mengeratkan nuansa kasih sayang dengan si anak. Jika ia tidak diberi, si kecil tentu akan kesal, mungkin marah, atau bahkan mengamuk. Tetapi ia belajar banyak hal dan kebijaksanaan, diantaranya yaitu bahwa keinginan tidak selamanya dapat segera jadi nyata, atau bahwa 'usaha'nya masih perlu diperbaiki, mungkin dengan mencoba menampilkan pencapaian (dengan belajar dan berprestasi, misalnya) agar kelak sang orang tua dapat lebih tergugah untuk memberi apa yang diinginkannya. :)

Poin kedua baiknya dikaitkan dengan analogi barusan. Dari segi pemahamannya terhadap kehidupan, mungkin cocok jika manusia diposisikan sebagai anak kecil. Manusia berkeinginan, punya impian dan menyusun cita-cita meski ternyata toh hanya sebernilai mainan. Kemudian ia berusaha mendapatkan apa yang diinginkannya tersebut biarpun sejatinya 'usaha'nya itu hanyalah rengekan dan pintaan terhadap Sang Pencipta. Pada akhirnya, keputusan berada mutlak pada kekuasaan Tuhan. Hal yang mungkin sulit dipahami oleh si 'anak kecil manusia' adalah mengenai esensi dan konsekuensi terkehendakinya keputusan tersebut. Sisanya dapat ditafsirkan serupa sebagaimana disebutkan dalam analogi itu.

..


Setelah jelas bahwa terwujudnya impian bukanlah hak yang sebenarnya patut dituntut oleh manusia, ia semakin mengontraskan diri dengan kenyataan, yang seperti arus tak terbendung menerjang semua dirian harapan yang bernyali menyuarakan tantangan dan kebebasan bermimpi. Pada akhirnya toh kenyataan berperan sebagai 'pendidik' bagi spiritualitas anak kecil manusia yang impiannya dikendarai kebahagiaan egosentrisnya.

Well, dalam pemahaman ini mungkin asersi Pagi di awal tadi menjadi terasa terlalu ekstrim sehingga mungkin yang lebih tepat adalah bahwa impian merupakan lawan main kenyataan dalam drama ujian berdurasi usia satu jiwa : kehidupan. Waktu ujian akan segera habis dan Allah, dengan sifat mahapengasihNya, membantu kita menyiapkan 'jawaban yang benar' dengan mengilhamkan impian agar kita tergugah merenungi kekuasaan nyataNya, Sang Pengalir Kenyataan, sembari mengasihi kita dengan berkah tak hinggaNya melalui pelajaran kebijaksanaan agung dan keajaiban tak terduga.