Minggu, 23 Januari 2011

bedah sajak "Bubuk Akan"

BUBUK AKAN

Sepatah sebaran retakan
serapuh remukan reruntuhan,
kesadaran di segenggam urat nista
berkejaran dengan hasrat setipis semesta.

Belum semalam sejak lunglaiku temukan damai
dalam relung yang sedalam sajak pelalai, lalu berlekas mengelupas.

Semenyedihkan tawa terpaksa
dan seperih didihan rawa raksa,
keajaiban itu menggantung di titian tinggi :
seperti maki rupaku yang berkaki terpaku.

Menengadah, pandanganku jangkaui udara kosong
merasa tak berhati
berpunya asa tetapi mati,
dan seperti orang bodoh bertelepati :
lontar terus bahasa sampai ada yang mengerti.

Mantra taburan bubuk akanku.
(Ankara, 8 Juni 2010)


Ini adalah puisi yang sudah menjadi sangat tua sekarang -__- Perlu menggali-gali ingatan lagi untuk bisa memahami kembali esensi puisi ini, yang untungnya dari segi narasi telah cukup sugestif. “Bubuk Akan” mendeskripsikan satu fase kehidupan Pagi dimana terjadi pergolakan emosional yang cukup berat. Seperti bisa dideteksi, sajak ini mengandung kontaminasi cinta, bukan elemen bahagianya melainkan unsur rasa sakitnya. Momen pewujudan sajak ini adalah tidak lama setelah terjadinya perubahan fundamental dalam cara pandang Pagi. Perubahan yang problematis, sebenarnya.

Bait pertama menggambarkan Pagi - kesadaran dalam urat nista (otak yang kotor) - mengejar apa yang diinginkannya. Tetapi keinginannya itu begitu tak koheren dengan realita sampai-sampai terdeskripsi dalam frasa “sepatah sebaran retakan, serapuh remukan reruntuhan”, menggambarkan betapa rapuh dan tak berdasarnya pengejaran Pagi, sebab yang dikejar pun seperti asap : samar, lekas hilang, tak tergenggam.

Bait kedua adalah kekecewaan yang telah diperkirakan. Revolusi larutan emosi dari bahagia pekat menjadi kental berkesedihan. Ada penyesalan juga.

Bait ketiga menjadi pajangan rute transformasi pandangan Pagi. Awalnya Pagi selalu berpegang pada keajaiban sebagai lilin emas yang akan menerangi jalan. Bisa dibilang optimisme berlebihan. Tetapi bahasa kegagalan memang terkadang cocok mendeskripsikan realita, dan kali ini begitu. Masa penulisan sajak ini adalah belum lama sejak cinta Pagi kandas, torehan rasa sakit yang terasa masih sedekat hari kemarin untuk bisa dilupakan dan telah sejauh masa lalu untuk bisa diperbaiki. Alasannya suci, Insya Allah. Namun fase ini mengantarkan paparan demi paparan yang kelewat jujur, mengenai cara pandang Pagi yang telah silam. Optimisme tadi menembak balik, sekarang tampak seperti” tawa terpaksa”; sedangkan kehangatan yang digembor-gemborkan Pagi dalam masa lalunya tertampil seperti hasil dari “didihan rawa raksa”, kehangatan yang artifisial dan menyakitkan. Keajaiban yang dahulunya terlihat seperti sebuah bintang yang berada dalam jangkauan genggaman, sekarang tampak “menggantung di titian tinggi”. Frasa ini mempunyai sedikitnya dua kekhususan, diantaranya :
1. “menggantung” sebenarnya membawa arti “tergantung” atau “digantung” (jadi sebenarnya bukan bentuk kata kerja aktif), tetapi dapat pula membawa arti “menggantung dirinya sendiri”. Ini adalah ironi yang baiknya direnungkan sendiri.
2. “titian” menggambarkan sebuah jalan sempit yang membentang di langit dunia. Merujuk pada alur takdir yang memang tak tersentuh pengenalan manusia.
Frasa “maki rupaku yang berkaki terpaku” adalah apa yang dilakukan situasi tadi terhadap Pagi.

Bait  selanjutnya adalah kelanjutan adegan ini. Berkontemplasi dalam irama alunan udara, isinya adalah kemarahan dan rasa kasihan terhadap diri sendiri. Sebuah ironi terlihat disini, Pagi mengambil peran “orang bodoh bertelepati” sebagai penggambaran atas kesadaran baru Pagi. Ini mendeskripsikan kengototan Pagi sebelumnya, yang selalu yakin bahwa keajaiban adalah dekat, serta kepolosan Pagi yang selalu berkoar akan hal ini. Pada akhirnya, Pagi tidak membuang lentera ini, melainkan memungutnya dan mengusapnya dengan sedikit ego afirmatif. Frasa pamungkasnya adalah “bubuk akan”, yang mendeskripsikan pengharapan-pengharapan Pagi sebagai sesuatu yang telah remuk, remuk seremuk-remuknya sampai menjadi selumat debu.

Begitulah, sampai disini omong kosong panjang lebar Pagi mengenai apa yang ada dibalik sajak ini. Semoga menginspirasi!

Salam.