Minggu, 13 Juni 2010

p.o.m

maaf, terpaksa menunda pembahasan puisi.

This time I need to shout!! To shout without anybody hearing!! To shout without anybody noticing!! To shout myself out with nobody knowing, and finally the blow shall be swallowed by abrupt silence. Awkwardness bearing my name, unluck tainting my fate, shame shading on me, and everything terrible got pin down at me.

This may not be the first time I wish that I were not myself, that this destiny were not mine, nor anyone's. This may not be the first time I turn unthankfully berserk.

Pity on me.

Selasa, 08 Juni 2010

Perpetuasi

Pagi dunia! Well, sebenarnya sedang sore di belahan dunia sini, tetapi bagi Pagi sih selalu pagi hari didalam hati.. :malu:

Besok siang Pagi akan menghadapi UAS matematika diskrit dan seperti biasa, inspirasi justru datang pada saat-saat krusial seperti ini. This reminds me of an analogy that the greater the pressure the greater the pleasure.. Eh salah, :hammer: ini maksud Pagi, the greater the pressure the greater the blow. Puisi dadakan ini dinamai "Bubuk Akan" untuk suatu alasan yang lumayan pelik, i shall explain this later on. For now, enjoy.
Seperti biasa, penjelasan akan menyusul di postingan selanjutnya, insya Allah.

Bubuk Akan

Sepatah sebaran retakan
serapuh remukan reruntuhan,
kesadaran di segenggam urat nista
berkejaran dengan hasrat setipis semesta.

Belum semalam sejak lunglaiku temukan damai
dalam renung yang sedalam sajak pelalai, lalu berlekas mengelupas.

Semenyedihkan tawa terpaksa
dan seperih didihan rawa raksa,
keajaiban itu menggantung di titian tinggi :
seperti maki rupaku yang berkaki terpaku.

Menengadah, pandanganku jangkaui udara kosong
merasa tak berhati
berpunya asa tetapi mati,
dan seperti orang bodoh bertelepati :
lontar terus bahasa sampai ada yang mengerti.

Mantra taburan bubuk akanku.



**
(Ankara, 08 Juni 2009)